Live Streaming Serie A

Gianluigi Buffon: Merelakan Senja Menyambut Fajar

radentv.com - Awal Juli 2001, kiper muda potensial asal Parma didaratkan ke Turin dengan mahar yang luar biasa besar, 52 juta euro atau sekitar Rp 832 miliar (EUR 1 = Rp 16.000). Sebuah angka yang menjadikan pemain 23 tahun ini sebagai kiper termahal di dunia kala itu. Dia adalah Gianluigi Buffon.


Tradisi Juventus yang selalu menghasilkan kiper-kiper hebat asal negeri sendiri mulai dari Dino Zoff hingga Angelo Peruzzi coba diteruskan ketika Juventus memutuskan untuk mendapat tanda tangan Superman, julukan Buffon.

Asa di pundak Gianluigi Buffon begitu besar untuk mengembalikan kesucian gawang Juventus yang sempat 'dikotori' Edwin van der Sar. Kiper asal Belanda ini adalah kiper hebat, tapi itu ketika di Ajax dan Manchester United, tidak di Juventus.

Datang secara gratis dari Ajax pada musim panas 1999 setelah Peruzzi membelot ke Inter, Van der sar (VDS) seperti tidak ditakdirkan bersinar di Juve. Dua musim di Turin, VDS turun sebanyak 66 kali di Serie A, 46 kali kebobolan. Memang tidak fair kalau hanya menyalahkan kiper saja untuk urusan kebobolan, tapi secara umum, VDS memang tidak sebagus kala di Ajax.

Di bursa transfer musim panas dua musim berselang, Fulham datang sebagai dewa penyelamat sambil membawa uang EUR 10,3 juta. Juve untung besar. VDS dapatkan performanya lagi di Liga Inggris. Semua untung. Semua senang.

Pascahengkangnya VDS, potensi hebat Buffon di Parma mendapatkan tempat yang tepat untuk semakin berkembang. Selama 16 musim membela Si Nyonya Tua, Buffon hampir meraih segalanya. Delapan scudetto (plus 2 scudetto yang 'dihibahkan' ke Inter), 3 gelar Coppa Italia, 5 Supercoppa Italiana dan UEFA Best Player (2003) serta Piala Dunia 2006 bersama Azzurri.

Namun ada satu impian Buffon yang masih belum bisa terealisasi. Apa itu? Si Kuping Besar alias trofi Liga Champions Eropa. Tiga kali melaju ke final, tiga kali pula Buffon harus memendam kecewa. Manchester, Berlin dan Cardiff seolah menjadi kota-kota yang siap untuk dibenci Sang Superman.

Peluang terakhir Buffon untuk meraih mimpinya itu sangat mungkin akan terjadi di musim ini. Apa pasal?

Tepat pada hari ini, 28 Januari 2018, Buffon berusia 40 tahun. Kontrak di Juve akan berakhir 30 Juni 2018. Pada beberapa kesempatan, Buffon memang mengindikasikan akan pensiun. Sebuah keputusan yang jika terjadi nantinya, pasti akan menyesakkan hati para Juventini dan penikmat bola.

Melihat seorang Buffon gantung sarung tangan tentu akan membutuhkan keteguhan hati yang kuat. Bahkan oleh fans rival Juve sekalipun. Kualitas, loyalitas dan kepemimpinan Buffon tentu akan sangat sulit ditiru oleh para penerusnya nanti. Beban ada di pundak deputinya saat ini, Wojciech Szczesny.

Cedera yang memaksa Buffon harus absen dalam tujuh pertandingan Juve terakhir, seperti berkah buat Szczesny. Kiper asal Polandia ini mampu memberi bukti bahwa Juventus dan Juventini tidak perlu khawatir andai Buffon nanti pensiun.

Sampai giornata 22 Serie A musim ini, Szczesny tampil sebagai starter di 12 pertandingan Juve. Menorehkan 8 kali clean sheet, termasuk di pertandingan dini hari tadi melawan Chievo (28/1) dan hanya kebobolan 6 kali tentu menjadi angka yang cukup meyakinkan sebagai calon pengganti Buffon.

Di timnas Italia, allenatore yang baru nanti juga harus siap untuk menyiapkan Gianluigi Donnarumma dan Mattia Perin untuk segera menjadi suksesor Buffon. Kiper AC Milan dan Genoa inilah yang secara kualitas layak menjadi nomor 1 di Azzurri.

Pada akhirnya, karena waktu terus berputar, kita harus sepakat untuk siap-siap kehilangan salah satu legenda hidup sepakbola.

Kita harus siap merelakan senja, menyambut fajar.

Buon compleanno Buffon.
Streaming MU vs Spurs (Piala FA) Streaming RadenTV
Share

+1