Betapa Tidak Mudahnya Mencintai Nyonya Tua

radentv.com - Suatu dini hari di tahun 1996. Bocah kecil yang baru akil-baligh dengan kostum setrip hitam-putih kebesaran (dengan arti yang sebenarnya, memang ukurannya terlalu besar) bermerek bintang tujuh dalam bahasa Inggris, menangis saat pemain Dortmund yang baru masuk membobol gawang tim pujaannya untuk yang ketiga kalinya.

Harapan untuk setidaknya menyamakan kedudukan setelah sempat memperkecil skor menjadi 1-2 malah menguap kala sang kiper, Peruzzi melongo melihat bola masuk lewat atas kepalanya. Lenyaplah asa melihat Alex Del Piero mengangkat trofi sekaligus hilangnya sumber cerita untuk sang bocah esok pagi di sekolah.

Juventini
Pic: Getty Images

Semua berawal dari poster tim sepakbola berbaju setrip hitam-putih dengan tulisan 'pabrik susu' (iya, bocah kecil itu mengira itu pabrik susu) di belakang pintu kamar kakak keponakan, hingga rasa penasaran itu muncul.

Seperti anak-anak lainnya yang besar di era 90-an, bocah ini hanya mengenal Liga Italia yang tayang di salah satu stasiun swasta nasional. Walau sempat ada Bundesliga di 'TV Negeri' dan Liga Inggris yang baru hadir beberapa tahun berselang di stasiun sebelahnya, rasa kagum kepada tim asal Italia ini tidak pernah pudar.

Rasa kagum yang sedikit demi sedikit berubah menjadi cinta saat melihat pemain bernomor punggung 16. Rambut gondrong dengan kumis tipis yang nyambung dengan jenggot tipis pula, entah itu namanya apa. Sampai-sampai, anak kecil ini berikrar saat gede nanti, pengen gaya rambut, kumis dan jenggot seperti idolanya.

Pemain bernomor punggung 16 ini akhirnya diwarisi nomor punggung keramat '10' setelah pemilik sebelumnya, Roberto Baggio, membelot ke klub rival, AC Milan. Si nomor 10 yang ternyata 16 tahun berikutnya menjadi sosok legenda hidup Juventus. Ya, dia adalah Alessandro 'Alex' Del Piero.

Bagi Juventini cilik ini, hari Sabtu dan Minggu tentu jadi hari yang paling ditunggu. Sabtu, pulang sekolah adalah waktunya nonton film horor vampire konyol yang takut sama kertas kuning. Setelah dhuhur, Dik Doank dengan Planet Football-nya adalah tayangan wajib tonton.

Minggu? Bukan kartun Doraemon atau Dragon Ball yang ditunggu, tapi tentu saja Lega Calcio. Komentar bernas yang informatif dari Bung Kusnaeni, Andi Darussalam Tabusala, Danurwindo dan (alm) Ronny Pattinasarani terasa lebih enak didengar daripada komentator lebay dengan diksi dan istilah-istilah nyleneh yang sekarang lagi nge-hits.

Tujuh tahun berselang, si bocah kecil sudah beranjak gede. Jersey KW 3 hitam-putih sudah punya beberapa teman di lemarinya. Ada jersey 'kulit jeruk' tim ibukota dan tim biru dari London. Bukan maksud hati berselingkuh, karena dua kostum lain itu adalah 'hadiah' dari teman saat rekapan kecil di Senin pagi sebelum upacara bendera.

Rekapan apa itu? Ah, kalian semua pasti paham... Kenakalan remaja gila-bola-bermodal-uang-saku-tiga-ribu-rupiah jaman dulu.

Persis sebelum ujian kenaikan kelas, malam jahanam seperti tujuh tahun yang lalu kembali terulang. Kali ini, AC Milan yang memecundangi Juventus untuk meraih trofi Liga Champions 2002-2003. Kekecewaan kembali menyeruak. Kali ini lebih sakit karena kalah di adu tendangan penalti.

Tiga tahun kemudian. Trofi Piala Dunia 2006 yang diangkat Fabio Cannavarro serasa terlihat seperti kaleng Khong Guan berisi rengginang. Penuh kepalsuan. Bek tangguh yang sebelumnya berjuang melindungi Buffon di Juventus musim 2004-2006 malah memilih meninggalkan Si Nyonya Tua yang sedang tersandung masalah. Calciopoli.

Real Madrid dan Inter Milan memanfaatkan situasi. Fabio Capello, Emerson dan Fabio Cannavarro boyongan ke ibukota Spanyol. Sedangkan Inter Milan, selain mendapat 'hibah' scudetto dari Juve, juga mendapatkan tanda tangan Patrick Vieira dan Zlatan Ibrahimovic.

Lengkap sudah, skuat protol dan tim jadi bahan lelucon seantero Negeri Pizza. Fans garis gak jelas keras rival Juve di Indonesia juga ikut-ikutan merundung. Ini sebenarnya lucu, kalau kata 'konyol' terlalu kasar untuk digunakan.

Apa sebab?

Juventus yang dianggap sebagai aktor utama skandal ini, dihukum pencabutan gelar scudetto musim 2004/2005 dan 2005/2006, degradasi ke Serie B musim 2006/2007, tidak berhak mengikuti Liga Champions serta pengurangan sembilan poin di awal musim.

Tapi Juve tidak sendirian. Hasil penyelidikan juga memutuskan menghukum AC Milan, Lazio, Fiorentina dan Reggina. Hukuman mereka bervariasi.

OK, anggap saja Juventus bersalah (walaupun faktanya, pada 23 Maret 2015 Pengadilan Tinggi Italia membebaskan Luciano Moggi dari segala tuntutan) klub mereka juga bukan klub suci tanpa dosa. Menjadi hal yang lucu kalau tim mereka sendiri juga kena hukuman tapi malah menertawai klub lain.

Pesan moral: Buat para Juventini yang sekarang sudah jadi orang tua, itulah bukti pentingnya mengajari anak membaca dan imunisasi.

Gelar scudetto dalam enam musim terakhir tentu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Tidak ada tim di Italia yang bisa menyamai prestasi ini. Tapi, tentu Juventini berharap lebih dari ini. Si Kuping Besar alias trofi Liga Champions adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Dua kekalahan di tiga final Liga Champions dalam tiga musim terakhir seperti menguatkan kutukan Juve. Terhitung, sudah 5 kali final setelah terakhir juara pada 1996, Juventus selalu gagal. Mental pemenang dan Dewi Fortuna seperti menjauh dari Juventus tiap kali menjejak kaki ke final.

Tapi, sama seperti ketika kita mencintai seseorang, semua cerita kesuksesan dan kegagalan di atas bukanlah alasan utama kenapa kita mencintai atau membenci sebuah tim. Memang, prestasi tim salah satu faktor pendukung, tetapi tidak mutlak. Mau contoh? Gak usah jauh-jauh. Di kompetisi tanah air, saat tim peringkat 1 bermain di laga kandang, jumlah penontonnya gak lebih banyak daripada tim juru kunci kala bermain di Gresik. Itupun juga anggota mereka sendiri yang 'diwajibkan' hadir.

Selain itu, jika tolok ukur utama mendukung sebuah tim semata hanya prestasi, mungkin kita akan bosan bertemu suporter berbaju Real Madrid, Barcelona atau Manchester United saja. Betapa kasihannya tim macam Ancona, Hercules atau MK Dons.

Pernyataan dan pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah: memang mudah menjadi Juventini (atau tim besar lainnya) lha wong memang sering menang. Bagaimana kalo jadi pendukung Torino, Vicenza atau Bari? Mau?

Silakan jawab sendiri pertanyaan di atas, karena jawaban itu pasti akan bervariasi. Mencintai suatu klub memang banyak faktornya. Kalau mau ditulis daftarnya, mungkin seperti ini:
  1. Faktor kedaerahan, contoh: mendukung tim asal daerah kita. Harga diri dan rasa memiliki suatu tim mempunyai peran besar disini;
  2. Faktor lingkungan dan pengalaman (teman dan TV), contoh: ya seperti mencintai tim-tim Serie A tadi, karena tontonan bola era 90-an yang paling favorit ya Lega Calcio; atau kids jaman now yang tergila-gila dengan Barcelona atau Real Madrid, karena memang dua tim itu yang prestasinya paling moncer atau mereka memang tahunya cuma dua tim itu;
  3. Mental anti-mainstream: ingin dilihat beda, ingin mencari sensasi mendukung tim medioker;
  4. Glory-hunter: fans abal-abal yang cuma mendukung tim yang saat ini lagi nge-hits dan sedang berada di puncak kejayaan, misal dua musim lalu Leicester City atau musim ini Bhayangkara FC, setelah tim itu kembali ke habitat-nya, ya cari tim lain lagi, telooo...
  5. Mental ABS (asal bos senang): mendukung satu tim karena 'kewajiban' dari atasan.. butuh contoh? Ah, sudahlah...
Jadi, pada akhirnya setiap individu pasti punya alasan-alasan untuk mencintai suatu klub. Sama seperti si bocah kecil tadi yang memang sangat (tidak) mudah untuk mencintai Si Nyonya Tua dengan segala kumpulan prestasi, kegagalan dan kontroversinya...
Share

+1