Antonio Conte, Gladiator yang Kekanak-kanakan


radentv.com - Jauh sebelum dikenal sebagai pelatih bertangan dingin yang kerap emosional dan meledak-ledak seperti sekarang, lelaki ini, Antonio Conte, telah lebih dulu dikenal sebagai sosok jenderal lapangan tengah yang kharismatik, tak banyak bicara, tetapi lugas dalam menjalankan perannya.

Juventus sangat beruntung memilikinya, ketika lini tengah mereka diisi oleh nama-nama besar seperti Zinedine Zidane, Edgar Davids, Alessio Tachinardi, hingga Pavel Nedved. Hanya Conte-lah yang fasih memainkan peran sebagai gelandang penyeimbang. Peran yang sebetulnya nyaris tidak populer, tidak kentara sama sekali (pemain invis, kata anak-anak Kaskus) mirip-mirip peran Claudio Marchisio sekarang, tetapi begitu vital dalam mengendalikan tempo dan menentukan kapan harus menunggu, kapan harus menusuk. GLADIATOR!

Antonio Conte

Tidak semua pemain dibekali kemampuan dalam menjalankan peran yang diemban Conte. Bahkan mereka yang paling jenius sekalipun, semisal Zidane, atau Ronaldinho. Keduanya akan sangat gagap berdiri menempati posisi Conte. Conte tahu kapan harus memulai pergerakan tanpa bola, merusak konsentrasi pemain lawan yang mendadak seperti lupa pada tugas awalnya, sehingga membuka jalan bagi pemain lain menusuk dari celah yang dibuka oleh Conte tadi. Jika berhasil, maka terjadilah selebrasi. Jika tidak, Conte sudah tahu ke mana ia harus bergerak, menutup ruang, merusak skema serangan balik lawan, hingga kemudian tak ada lagi jalan dan pintu sama sekali.

Begitu vitalnya peran Conte saat itu di Juve, membuatnya dipercaya mengenakan ban kapten tim semenjak tahun 1996 dan bertahan hingga tahun 2001. Bagi saya, hingga saat ini masih belum ada pemain yang memiliki visi membaca pertandingan sebaik Conte, bahkan seorang Pirlo sekalipun masih belum ada apa-apanya.


Pirlo tahu bagaimana cara mengkreasikan serangan dengan umpan-umpan yang presisi, tapi cukup sampai di situ. Sementara Conte, ia memungkinkan pemain-pemain seperti Pirlo, Modric, hingga Ozil bergerak leluasa, mendapatkan ruang gerak yang ideal dalam menembak ataupun melepaskan umpan. Siapapun yang bermain di sisi Conte, hanya tinggal berdiri menikmati jalan lapang yang telah dibuka oleh Conte, tanpa takut diganggu oleh tackle dan covering pemain lawan. Conte yang membuka jalan, Conte pula yang menjaga dan mengawasi jalan tadi.

Keberadaan Conte mulai sedikit terusik, ketika publik Turin mulai terpesona dengan kehadiran sosok penyerang muda, tampan, berambut ikal yang digadang-gadang sebagai penerus Roberto Baggio. Pemuda ini bernama Alessandro Del Piero.

Del Piero mulai mencuri banyak perhatian, tidak hanya bagi para Juventini, tetapi juga publik Italia pada umumnya. Kemampuan olah bola yang oke, skill dribble di atas rata-rata dan yang tak kalah pentingnya, torehan gol yang membuatnya semakin dielu-elukan. Sungguh, suatu hal pembeda, yang mungkin tak pernah dimiliki oleh Conte sepanjang karir. Sesempurna apapun permainan Conte, yang diingat banyak orang hanyalah ia yang mencetak gol.

Del Piero dan Conte

Tahun 2001 Conte mulai kian terpinggirkan oleh Del Piero, ban kapten yang selama ini melingkar di lengannya pun harus ia relakan dan berpindah tangan kepada Del Piero. Semenjak saat itu pula permainan Conte mulai turun drastis, peran-peran serta tugas vitalnya mulai bisa digantikan oleh pemain lain.

Selain itu, usia dan kondisi fisiknya yang mulai rentan cedera, semakin membuatnya kesulitan bersaing dengan para pemain yang lebih muda. Conte tak hanya sudah tergantikan, namanya pun mulai tenggelam jauh di bawah kapten Juve saat itu, Del Piero. Tahun-tahun selanjutnya, Conte harus puas menerima kenyataan karena hanya menjadi pilihan kedua di Juve. Hingga pada akhirnya di tahun 2004, Conte memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai pemain.

Conte seolah dikalahkan berkali-kali oleh Del Piero saat itu. Terlepas dari apa yang telah diberikan Conte untuk Juve, tapi terus terang, dengan sangat menyesal saya harus katakan bahwa, tak terlalu banyak orang yang kehilangan sosoknya ketika itu. Kepergian Conte seolah tak berpengaruh apa-apa, karena Juve kian berkibar bersama Del Piero. Sungguh, sesuatu yang kurang adil bagi Conte, setelah apa yang selama ini diperjuangkannya di Juve. Setidaknya bagi saya, ia berhak menerima penghormatan yang lebih baik dari ini.


Musim 2005/2006 Conte mencoba merintis karirnya yang baru, ia mencoba masuk ke dunia kepelatihan dengan menjadi asisten pelatih klub Siena. Secara kebetulan, di tahun 2006 Juventus tersandung kasus Calciopoli dan harus berkompetisi di Serie B. Conte dan Juve seolah dibukakan jalan untuk memulai kembali perjuangannya dari titik nol. Baik Conte maupun Juve seperti ditakdirkan memiliki nasib yang sama.

Di tahun-tahun setelahnya, tak ada trofi bergengsi yang diraih oleh Conte, seperti halnya tak ada juga prestasi memuaskan yang diraih oleh Juve. Conte dan Juve terikat oleh benang merah bernama ketidakberuntungan. Hingga ketika keduanya semakin bergerak menjauh, benang merah itu kian jelas membentang, saling menghubungkan keduanya.

Musim 2011/2012 Conte kembali ke Juventus, kali ini ia datang sebagai pelatih kepala. Di tahun itu, Conte dipertemukan kembali dengan Del Piero, sosok pemuda yang seolah telah merengkuh segalanya dari Conte. Ada aroma persaingan tak kasat mata di Juve saat itu, tentu antara Conte dan Del Piero. Mungkin sedikit berbau dendam lama, sakit hati, atau barangkali cuma soal kecemburuan. Tetapi kesemuanya coba ditutupi dengan rapat oleh keduanya, lewat sesuatu bernama PROFESIONALISME!

Conte mulai sedikit menyingkirkan pengaruh Del Piero di tim kala itu dengan hanya memainkannya dari bangku pemain cadangan. Ia seolah tak mau ada dua matahari di sebuah pagi yang sama. Jarang sekali Del Piero menjadi starter. Sementara ban kapten, lebih sering dikenakan oleh Buffon. Pelan-pelan, Juventus mulai harus membiasakan diri tanpa Del Piero.

Segala peran di tengah lapangan yang biasa dilakukan oleh Del Piero seperti memotivasi dan menyemangati timnya, diambil sepenuhnya oleh Conte dari pinggir lapangan. Teriakan Conte tak ada habisnya dari awal hingga akhir pertandingan guna membakar semangat para pemainnya. Saat itu, Conte mulai kembali mendapatkan panggungnya. Sementara Del Piero? Ia mulai merasakan situasi yang pernah Conte alami dulu.

Di akhir musim, Conte memberikan gelar juara Liga Italia kepada Juventus dengan rekor tak pernah kalah selama satu musim penuh. Sementara Del Piero, harus menerima kenyataan kontraknya tidak lagi diperpanjang. Juve pun berpisah dengan salah satu kapten yang pernah dimilikinya. Sebuah kehilangan besar bagi Juventus. Tetapi menjadi sebuah era Baru bagi Conte untuk membuat dirinya tak lagi dibayang-bayangi Del Piero. Sekali ini, Conte telah berhasil membalas kekalahannya dari Del Piero.

Conte kian berkibar bersama Juve, tiga scudetto berhasil diraihnya secara berturut-turut. Sayang, hasil ini tidak berbanding lurus dengan pencapaian Juve di Liga Champions. Juve hanya menjadi penggembira di dalamnya. Kualitas Conte pun mulai dipertanyakan, tetapi dari sekian banyak pertanyaan yang muncul, tak satupun berhasil ia jawab dengan satu pembuktian.

Conte justru berubah menjadi seorang yang besar kepala dan angkuh, bahkan tanpa diduga ia menunjukkan kefrustrasiannya sendiri dengan berkata; "Anda tak bisa pergi ke restoran 100 euro dengan membawa uang 10 euro." Sungguh, suatu sikap dan jawaban yang sama sekali tidak memperbaiki keadaan.

Kalimat Conte tadi tentu amat sangat menyakiti mereka yang bekerja mati-matian di balik layar, berusaha menyehatkan kembali keuangan Juve yang hancur lebur pasca terdampak kasus Calciopoli. Hubungan Conte dan manajemen Juve mulai meregang saat itu, hingga kemudian pada Mei 2014, secara mengejutkan Conte  menyatakan pengunduran diri dari posisi pelatih kepala Juve, tepat seminggu sebelum Juve menjalani latihan pra-musim.

Selepas melatih Juve, Conte diketahui melanjutkan karirnya sebagai pelatih di Timnas Italia hingga usai gelaran Euro 2016, lalu berlabuh di Chelsea sampai saat saya menuliskan tulisan ini. Dari kurun waktu di atas, Conte telah berhasil mencetak prestasi membawa Chelsea menjuarai Liga Inggris di musim 2016/2017 dan Piala FA di musim 2017/2018.

Namun terlepas dari berapapun trofi yang berhasil diraihnya, Conte kian berubah menjadi sosok yang tak lagi setenang dulu, ketika masih aktif sebagai pemain. Conte telah berubah menjadi sosok yang emosional, baperan dan mudah sekali dipanas-panasi. Beberapa kali ia terlibat perang mulut dengan Mourinho yang seolah tahu betul Conte tengah terkena star syndrome atas segala keberhasilannya.

Apapun umpan yang dilepaskan Mourinho, Conte seolah menelannya mentah-mentah. Alih-alih mendapatkan respek, Conte justru terkena sendiri bumerang dari apa yang telah diucapkannya. Hal ini tentu berdampak buruk pada performa timnya sekarang.

Conte kini hanya peduli pada serangan-serangan di luar lapangan. Ia lupa bahwa di Liga Inggris tak hanya soal melayani mulut Mourinho, tetapi juga soal bagaimana menjinakkan tiki-taka Pep Guardiola, gegenpressing milik Klopp, permainan cepat Wenger dan sepak bola indah ala Pochettino. Conte lupa pada itu semua dan kian tenggelam di antara mainan baru yang sengaja dilemparkan oleh Mourinho bernama "perang urat syaraf".

Hingga kemudian saya mulai berpikir, Conte masih terlalu kanak-kanak untuk mengenakan jubah seorang Gladiator.

**

Oleh: Handi Aditya
          Juventini pecinta gowes yang tersesat di dunia HRD
          Bisa ditemui di @handipsi


Share

+1