Saatnya Diet, Milan!


Saatnya Diet, Milan!

radentv.com - Beberapa hari terakhir, pencinta Liga Italia Serie A dibuat tidak percaya ketika ada salah seorang pemain terbaik dunia rela dan sudi untuk menjajal kompetisi yang katanya membosankan ini. Ya, pemain itu bernama Cristiano Ronaldo.

CR7 didatangkan Juventus dengan mahar 100 juta euro. Transfer ini diprediksi akan semakin mengukuhkan dominasi Juventus di Serie A. Ketika banyak pengelolaan klub di Serie A masih mengandalkan suntikan uang dari para pemiliknya, Juventus justru mereformasi total hampir seluruh jajaran manajemennya.

Perubahan paling kentara tentu dari sisi tata kelola keuangan klub, yang benar-benar sama persis dengan tata kelola perusahaan besar yang hebat pada umumnya. Ada target profit yang jelas di sana, ada perhitungan resiko, ada prinsip kehati-hatian dalam menggelontorkan biaya modal, investasi, pengembalian utang, bunga, serta detil-detil tetek-bengek lain yang tentu saya sendiri akan menyerah menjelaskannya.

Hasilnya mulai bisa dilihat sekarang, setelah hampir sekitar delapan tahun merombak total manajemennya, Juve kini melesat menjadi klub Italia paling bernilai di dunia. Keuntungan yang kian stabil bahkan cenderung progresif, penetrasi brand yang makin dikenal dan mendunia. Coba tebak, tim mana lagi selain Juve yang saat ini sudah memiliki stadion tercantik di Italia, lengkap berikut kompleks olahraga kelas dunia di sisi-sisinya, juga rencana pembangunan hotel & one stop entertainment yang masih berada dalam kompleks yang sama? Cobalah bersabar dalam beberapa hari ke depan, akan ada satu spesies alien yang secara resmi menetap pada salah satu lemari di locker room di Juventus Stadium.


Lalu sekarang mari kita menengok ke arah yang berbeda, tepatnya lebih ke utara Italia, ke Kota Milan tepatnya. Tempat di mana berdiri salah satu klub yang sudah sejak era Liga Italia bergulir, selalu menjadi lawan yang sepadan bagi Juventus. Mereka adalah AC Milan.

AC Milan merupakan salah satu klub tersukses di Serie A (atau bahkan yang paling sukses, jika ukurannya ialah trofi Liga Champions). Bahkan trofi Liga Champions milik Juve pun tak sampai sepertiga dari yang sudah dikoleksi Milan! 7 trofi! Terbanyak kedua setelah Real Madrid.

Tetapi lupakan soal trofi Liga Champions, lupakan juga soal gelar klub tersukses di Serie A. Mari kita bicarakan mengenai Milan hari ini, saat ini. Di manakah posisi mereka saat ini? Sejujurnya, saya yang bukan Milanisti pun iba jika harus membicarakannya saat ini. Ada apa dengan raksasa itu? Ke mana perginya darah-darah yang selalu mendidih ketika di hadapannya berdiri sebelas orang berseragam hitam-putih atau biru-hitam? Ke mana larinya DNA-DNA iblis merah itu?

"Mau mendengar lelucon lucu, Spongebob?"
"Apa, Patrick?"
"AC MILAN!"
"Pffffffttttt........"

Ada ratusan bahkan ribuan meme olok-olok mengenai situasi Milan saat ini. Betapa tidak, klub yang katanya tersukses di Italia itu nyatanya selama ini tak lebih baik pengelolaannya ketimbang tim asal Jember Utara, PERSIJEMBUT. Tidak, saya hanya bercanda! Tidak ada klub bernama PERSIJEMBUT, saya sudah googling dan memang tidak ada. Tetapi kira-kira memang seperti itulah kondisi Milan.

Tata kelola Milan mirip-mirip dengan tata kelola klub di Liga Indonesia pada umumnya. Bagaimanapun hanya sedikit klub di Indonesia yang namanya bisa menjual dan laku di mata sponsor. Selebihnya, sama sekali tak dilirik. Satu-satunya jalan untuk menghidupi klub tadi, tak lain hanya mengandalkan dari kantong si pemilik klub.

Maka tak aneh jika klub-klub tadi dijadikan sebagai alat bagi kepentingan si pemilik klub, katakanlah misalnya si pemilik klub terafiliasi dengan salah satu partai politik, maka klub tadi hanyalah alat untuk sekedar mencari simpati bagi si pemilik klub dan partai politiknya tadi. Jangan berharap banyak soal bisnis, terlebih soal pembinaan usia muda. Karena di Indonesia, kedua hal tadi hanya bisa dijumpai di dalam game Football Manager.

Bagaimana dengan Milan? Ah...yang ini lebih memprihatinkan lagi. Bertahun-tahun dikelola secara 'ugal-ugalan' oleh seorang politisi bernama Silvio Berlusconi, yang cuma ingin lagi dan lagi menguasai negeri Pizza itu. Awal mulanya mungkin berhasil, secara torehan prestasi barangkali yang paling oke. Tetapi sejujurnya, Milan tidak sedang dibawanya menjadi raksasa hebat seperti yang selama ini diyakini dan dilihat oleh para penggemar fanatiknya. Milan justru dibuatnya obesitas, kegemukan, penuh lemak jahat & kolesterol yang belakangan baru diketahui dan sudah sangat terlambat untuk diobati.

Kondisi ini sebetulnya sudah mulai terlihat semenjak musim 2009/2010, ketika Milan mulai menjual satu per satu pemain bintangnya. Salah satu penjualan yang termahal saat itu ialah Kaka. Milan menjualnya ke Real Madrid dengan bandrol 65 juta euro.

Akan tetapi yang menarik dari proses transfer ini bukanlah drama transfer seperti yang terjadi pada umumnya, semisal keinginan si pemain mencari tantangan baru, ingin naik gaji, atau ingin meraih trofi yang lebih bergengsi. Tetapi justru ungkapan memilukan, dari seorang pemain yang begitu mencintai Milan, namun terpaksa pergi demi menyelamatkan klubnya dari krisis finansial. Ya, Kaka rela dijual ke Real Madrid demi menyelamatkan keuangan AC Milan.

"Keinginanku adalah bertahan di Milan. Tetapi, krisis finansial dunia telah memengaruhi banyak klub, khususnya Milan," ujar Kaka.

Saya yang bahkan seorang Juventini pun, merasa sangat terpukul dan terharu mendengar kalimat tadi. Tetapi yang lebih menyedihkan, sepeninggal Kaka, Milan sama sekali tak berbenah. Kondisi krisis finansial klub yang saat itu kian terang benderang, seolah tidak lantas menjadi tanda bahaya bagi mereka yang duduk di kursi manajemen.

Milan tetap dikelola ugal-ugalan. Beban gaji kian membesar, utang kian menumpuk, sementara keuntungan yang ada tidak cukup menutupi besaran kerugian yang makin parah setiap tahunnya. Berkali-kali kondisi ini coba ditambal-sulam oleh Berlusconi dengan menyuntikkan Milan dengan dana dari kocek perusahaan lain miliknya. Tetapi kebocoran kapal Milan terlalu parah untuk sekedar ditambal. Milan harus segera diselamatkan!

Akhirnya, di jelang awal bergulirnya Liga Italia musim 2017/2018, Berlusconi menjual AC Milan kepada pengusaha asal China, Yong Hong Li. Besarannya sangat fantastis, sekitar 740 juta euro. Tak cukup sampai di situ, Li juga menggelontorkan dana sekitar 200 juta euro dari koceknya guna dipakai untuk budget transfer di musim itu. Nilai yang amat sangat fantastis, yang barangkali seorang Andrea Agnelli pun belum tentu bisa seloyal itu.

Milan bergerak cepat, Leonardo Bonucci langsung ditransfer dari Juventus tanpa negosiasi yang berbelit. Striker sekelas Andre Silva langsung ditebus kontan. Satu per satu lubang di setiap lini mulai dibenahi. #WEARESORICH kata sebagian pendukung Milan saat itu. Tagar yang sepertinya memang tak berlebihan mengingat besarnya budget yang disiapkan Milan di musim itu.

Milan seolah sudah terselamatkan. Pergantian pemilik dengan yang lebih kaya, sudah. Perombakan manajemen menjadi lebih profesional juga sudah. Milan yang dulu begitu lekat dengan tangan dingin Adriano Galliani, saat itu juga diganti oleh duet maut Fassone & Mirabelli. Maka sepertinya saat itu hanya tinggal membenahi yang kecil-kecil saja.

Tetapi belakangan baru diketahui, sebagian dana yang digunakan Yong Hong Li membeli Milan merupakan utang yang dipinjam dari perusahaan Amerika Serikat, Elliott Management. Besarannya mencapai 303 juta Euro. Utang ini tak hanya sekedar memiliki nilai bunga utang yang fantastis, tetapi juga memiliki klausul yang memuat konsekuensi yang cukup berat, yakni menyerahkan sepenuhnya aset Milan jika terjadi gagal bayar.

Kemudianhal yang ditakutkan pun terjadi. Li tengah dilanda kesulitan keuangan yang bahkan membuatnya tak mampu menyediakan tambahan modal guna membayar cicilan utang kepada Elliott, yang jatuh tempo pada 22 Juni 2018 lalu. Ditambah lagi, Li juga masih harus menyelesaikan seluruh kewajiban pembayaran utangnya kepada Elliott, yang akan jatuh tempo Oktober mendatang, dengan nilai total yang harus dibayarkan sebesar 380 juta Euro. Jika tidak mampu, Elliott berhak mengambil alih Milan, dan menjualnya secara lelang kepada penawar tertinggi.

Beberapa waktu yang lalu, UEFA sudah menyatakan bahwa Milan telah melanggar ketentuan Financial Fair Play (FFP), yang memaksanya tidak bisa mengikuti kompetisi Liga Eropa di musim depan. Hal ini berarti sama saja dengan menghilangnya potensi pendapatan klub yang saat ini sangat dibutuhkan Milan. Sementara dari pemasukan reguler yang ada, rasa-rasanya masih sangat belum cukup, bahkan untuk sekedar membayar gaji pemain yang sudah ada.

Maka jelaslah sudah, bahwa Milan memang bukanlah raksasa seperti apa yang selama ini dilihat dan diyakini oleh banyak Milanisti manapun di seluruh dunia. Milan kini tak ubahnya seperti seseorang bertubuh tambun, yang garis-garis tubuhnya dipenuhi lipatan lemak, menggelambir mengikuti ke mana arah gravitasi menariknya.

Kelak jika pada nantinya Milan harus mengalami pergantian kepemilikan lagi, maka yang dibutuhkan Milan nanti bukan lagi sajian-sajian asupan makanan yang terlihat enak. Melainkan sebuah pola diet yang ketat, yang barangkali akan sedikit menyiksa dan mendapat cemoohan karena akan dinilai kikir dan pelit. Tetapi harus selekasnya dijalani. Tak perlulah malu belajar bahkan dari musuh bebuyutan seperti Juventus sekalipun. Kecuali jika Milan memang nyaman dengan kondisi saat ini. Tak ingin sembuh, dan cukup bahagia menikmati hidup dengan hanya mengenang kejayaan masa lalu saja.

Segeralah diet, Milan! Lekaslah sembuh... Kami menanti kebangkitanmu. Forza Serie A.

***

Oleh: Handi Aditya
          Juventini pecinta gowes yang tersesat di dunia HRD
          Bisa ditemui di @handipsi

Share

+1