Deretan Para Alien yang Naik Level Menjadi Lord



radentv.com - Jauh sebelum spesies alien bernama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi menginvasi jagad sepakbola, nyatanya bumi kita sudah sering didatangi beberapa jenis alien yang pernah mendominasi deretan gelar pesepakbola terbaik.

Beberapa di antaranya bahkan tetap mengecap sukses hingga di penghujung karir mereka. Tetapi sebagian di antaranya lagi, ada yang naik level menjadi Lord (sebuah julukan sarkastik bagi para pesepakbola yang dianggap sudah berada pada titik harus ganti profesi).

Siapa saja mereka?

1. Ronaldo de Assis Moreira (Ronaldinho)

Satu lagi talenta terbaik sepakbola yang pernah dilahirkan, dialah Ronaldinho. Kemampuan menggocek bola, akurasi umpan, tendangan dan bahkan kecepatan dribbling di atas rata-rata. Ronaldinho merupakan nyawa dari kedigdayaan Barcelona di Eropa sebelum era Lionel Messi. Bahkan konon, Ronaldinho pulalah yang menjadi mentor terbaik Messi hingga menjadi pemain seperti sekarang.

Magis Ronaldinho perlahan hilang ketika gaya hidupnya mulai jauh dari kata disiplin. Ditambah lagi kebintangan Messi mulai bersinar terang, sehingga sedikit demi sedikit meredupkan karir Ronaldinho. Hingga pada akhirnya ia terdepak dari Barcelona, kemudian bermain untuk AC Milan hingga suatu ketika orang-orang mulai menganggap level bermainnya sudah bukan di Eropa lagi.

2. Andriy Shevchenko

AC Milan pernah menjadi klub yang sangat diberkahi Tuhan karena diberi kesempatan memiliki pemain ini. Salah satu striker murni terbaik yang pernah ada. Butuh nyali ekstra tinggi bagi kiper lawan menghadapi pemain ini.

Shevchenko pernah sangat sukses membela Milan, tetapi karirnya berbanding terbalik ketika ia mulai bergabung dengan Chelsea. Ketidaksesuaian taktik dan gaya bermain, serta tidak adanya pemain yang mampu melayaninya dengan baik, membuat Sheva kehilangan sentuhannya sebagai seorang striker. Bahkan ketika ia ditransfer kembali ke Milan, Shevchenko tidak pernah lagi menemukan sentuhan terbaiknya itu.

3. Fernando Torres

Menjadi salah satu perusak skema pertahanan lawan terbaik dan juga pencetak gol berdarah dingin nomor satu di Eropa adalah bukti bahwa Fernando Torres memang bukan striker sembarangan. Liverpool dibawanya terbang tinggi di Eropa, bahkan melebihi jangkauan Manchester United sekalipun ketika itu. Gol demi gol lahir dari kepala dan kaki Torres. Bahkan sampai dari situasi yang paling mustahil sekalipun, Torres mampu menorehkan namanya sebagai pencetak gol.

Kepindahannya dari Liverpool ke Chelsea menumbuhkan ekspektasi yang sangat tinggi dari para fans The Blues. Di lain pihak, mayoritas fans Liverpool dibuatnya sangat sakit hati ketika itu. Torres seolah tak pernah siap memikul beban seberat itu. Ia seperti tidak pernah nyaman lagi ketika menyentuh bola. Naluri membunuhnya seolah hilang semenjak ia bertukar seragam dari Merah ke Biru. Bahkan pada situasi mencetak gol paling mudah sekalipun, Torres gagal. Perpindahannya ke klub lain setelahnya pun tak cukup mampu mengobati karirnya yang sepertinya sudah mendekati akhir.

4. Michael Essien

Namanya sempat meroket ketika bersama Jose Mourinho keduanya berhasil menjadi penguasa Premier League. Essien ialah jelmaan dari Claude Makelele versi modern yang lebih bertenaga. skillnya sangat menjanjikan saat itu. Bahkan Essien juga sempat disebut-sebut sebagai gelandang box-to-box terbaik di dunia kala itu.

Karir Essien mulai perlahan tenggelam seiring dengan silih bergantinya cedera yang ia alami. Dengan fisik yang terus menua, sulit rasanya bagi Essien bisa kembali pada form terbaiknya dulu, terlebih harus bersaing dengan tenaga-tenaga muda yang lebih segar. Di penghujung karirnya, Essien yang juga pernah membela Real Madrid ini, musim lalu bergabung dengan klub Liga 1, Persib Bandung. Tetapi jangankan kesuksesan, menembus tim inti Persib saja ia kesulitan.

Di luar sana, masih banyak bertebaran para Lord sepakbola yang dulunya adalah alien. Bagaimana pun bentuk transformasi mereka sekarang, selalu ada yang bisa kita petik dari perjalanan karir mereka, bahwa segala sesuatu memang ada masanya. Bahkan puja-puji yang begitu hingar-bingar sekalipun, bisa dengan mudah berganti olokan dan ejekan.

Kita tentu tak berharap pemain yang kita idolai mengikuti jejak Rivaldo, Ronaldinho, Sheva, Torres bahkan Essien. Karenanya, berhentilah memuji pemain yang kita idolai secara berlebihan. Sebab tentu, kita tak pernah ingin pemain yang kita idolai justru terbebani begitu berat.

Hingga pada akhirnya mereka kian terpuruk, lalu mendapat julukan Lord sepakbola. Terlebih lagi jika harus mencoba menyelamatkan karirnya di AC Milan...

***

Oleh: Handi Aditya. Tifosi Serie A pecinta gowes yang tersesat di dunia HRD. Bisa ditemui di @handipsi
Share

+1