Hikayat Bonucci: Kisah Si Anak Hilang




Leonardo Bonucci

radentv.com - Syahdan terdapat sebuah keluarga yang terdiri dari seorang bapak dan dua orang anak. Keduanya laki-laki. Keluarga tersebut bisa dibilang keluarga yang harmonis dan berkecukupan.

Singkat cerita Si Sulung bilang kepada Bapak untuk meminta semua bagian warisannya, Si Bungsu tidak terima kelakuan sang kakak namun Bapak tetap dengan ikhlas memenuhi kemauan Si Sulung. Si Sulung pergi dan menghambur-hamburkan semua warisan tersebut hingga jatuh miskin dan sakit.

Disaat sakit dan penuh penderitaan Si Sulung teringat tentang kehangatan dan keharmonisan di rumahnya. Mau pulang malu, tak pulang rindu. Akhirnya dengan menahan malu, Si Sulung memutuskan untuk kembali ke rumah.

Bukan penolakan dan cibiran yang dia terima, namun pelukan hangat dan pesta penyambutan. Si Bungsu semakin iri karena dia merasa yang selalu patuh namun tidak sedikitpun mendapatkan perlakuan istimewa apalagi pesta dari Bapaknya.

Sekali lagi Bapak yang bijaksana berkata,

”Apa yang aku miliki, itu milikmu juga namun harusnya kamu ikut berbahagia karena yang hilang telah kembali lagi”.

Nah disini bayangkan jika anda menjadi Si Sulung, apakah anda akan tetap menjadi anak yang biasa-biasa saja? Atau akan memberikan yang terbaik setelah kepulangan ini? Hati siapa yang tidak tersentuh dengan perlakuan si Bapak kepada anaknya, dan saya menjamin si sulung akan jauh luar biasa setelah kepulangannya.

Si Sulung itu bernama Leonardo Bonucci.


Bonucci datang dari Bari pada tahun 2010 ke Juventus. Tidak banyak yang mengira bahwa pemain belakang ini akan mampu tumbuh besar layaknya bek tangguh Italia yang pernah ada.

Setelah era Montero, Ferrara, Cannavaro dan Thuram, Juventus seperti kembali masa jahiliyah. Terlebih saat Juve dipaksa turun ke Serie B akibat skandal Calciopli. Nama-nama bek semenjana macam Boumsong, Legrottaglie dan Kovac justru menghiasi starting line-up Juve kala itu.

Tidak ada satu pun yang mengira Bonucci akan menjadi hebat di barisan belakang Si Nyonya Tua. Hampir setiap pemain muda yang memiliki permainan konsisten selama satu musim di tim medioker selalu mendapat label pemain muda potensial, salah satunya Bonucci.

Mari kita mundur sejenak. Kita lihat siapa saja pemain muda Juventus yang mendapat label pemain muda potensial. Mereka antara lain Paolo De Ceglie (Italia U21), Armand Traore (Prancis U21) dan Frederik Sorensen (Denmark U21) pada tahun 2010.

Pada saat itu Juventus juga meminjam bek tanguh asal Uruguay dari Barcelona yaitu Martin Caceres. Dia pun juga menjadi bagian Timnas Uruguay U21 sejak tahun 2007. Namun sayang dari sekian banyak nama-nama bek muda potensial pada tahun 2010, hanya Bonucci, Caceres dan De Ceglie yang bertahan pada musim berikutnya.

Tahun 2012 Juventus mencium bakat dari Timnas U21, ada sosok bek tangguh disana bernama Alberto Masi. Masi dibeli oleh Juventus dari Pro Vercelli. Namun sayangnya pemuda ini gagal memenuhi ekspektasi besar manajemen serta pelatih. Pada musim 2012-2013 Masi hanya bermain dalam pre -season dan Trofeo TIM. Setelah itu dia harus puas dipinjamkan ke beberapa klub hingga dibeli oleh Bari dan dipinjamkan pada Spezia.

Tahun berikutnya Juventus tak cukup puas dengan BBC-nya dan berencana berinvestasi di sektor pertahanan dengan mendatangkan sosok tinggi besar bernama Angelo Ogbonna. Impresif bersama tim rival Torino, Juventus tertarik menjadikan Ogbonna sebagai penghuni tradisi bek-bek tangguh Italia bersama Juventus.

Tidak tanggung-tanggung di usianya saat itu Ogbonna sudah menjadi bagian timnas senior Italia. Besar harapan Juventus terhadap Ogbonna. Tidak ada yang kurang dari pemain ini, postur menjulang dan usia muda san skill bertahan yang ciamik membuat Juventus kepincut mendapatkan tanda tangannya.

Tapi apa dikata, semua kriteria tersebut seiring berjalanya waktu tidak sesuai dengan ekpektasi klub.Ogbonna hanya berseragam putih-hitam selama 2 musim. Dia hanya mengoleksi 41 penampilan. Juventus masih sangat amat nyaman dengan Barzagli, Bonucci dan Chiellini seolah sama sekali tidak ada yang mampu merebut hati Conte mapun Allegri pada waktu itu.

Hingga tiba saatnya usia mereka bertiga khususnya Barzagli tidak bisa dibohongi lagi yang akhirnya memaksa manajemen mencari bek muda potensial kembali. Nama Rugani muncul ke permukaan punggawa Timnas Italia U21 ini pun dibeli Juventus tahun 2013 dan akhirnya dipinjamkan ke Empoli untuk dapat mendapatkan menit bermain.

Impresif bersama Empoli Rugani kembali ke Juventus. Namun, fakta yang berat bagi pemain muda ini karena harus bersaing dengan para seniornya baik di level klub maupun Timnas senior Italia. Meski begitu, setiap diberi kesempatan bermain Rugani seolah ingin menunjukan bahwa dia layak dan pantas mengenakan seragam ini.

Bursa musim panas 2017, Juve membuat keputusan tidak populer kala menjual Bonucci ke salah satu rival abadi, AC Milan. Kita semua berpikir inilah akhir dari era BBC dan Ruganilah yang akan menjadi penerus Bonucci. Selain Rugani, Juventus kala itu juga mengamankan tanda tangan Caldara walaupun pada musim berikutnya 'disekolahkan' dulu di Atalanta.

Caldara digadang-gadang akan menjadi salah satu bek tangguh Italia bersama Rugani. Namun apa yang terjadi di bursa musim panas ini, manajemen justru memutuskan untuk menukar Caldara dengan Bonucci. Kalau kata orang Malang, lek-lekan.

Bonucci? Iya Bonucci kembali ke Juventus setelah musim lalu bergabung klub rival AC Milan. Tapi, kenapa Juventus merelakan pemain muda potensial ini? Kenapa Bonucci harus kembali?

'Juventus blunder', 'manajemen tidak becus' dan banyak kalimat-kalimat minor lainnya yang keluar tatkala proses transfer ini terjadi. Pertukaran ini jelas di luar ekspektasi fans, karena fans mungkin sudah tidak memikirkan lagi Bonucci dan mulai menaruh harapan besar pada sosok Caldara dan Rugani.

Duet ini sudah ditunggu-tunggu aksinya. Mengingat mereka saat ini satu tim dan sama-sama menjadi bagian timnas senior Italia. Disaat semakin uzurnya bek-bek Juventus lainnya, klub justru memutuskan untuk menjual aset mereka dan menukarnya dengan Bonucci.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: Apakah ada yang salah dengan kembalinya Bonucci?

Jawabannya: tidak sama sekali. Juventus adalah rumah bagi Bonucci. Kembalinya dia adalah keuntungan besar bagi kedua belah pihak. Anak yang dulunya hilang kini sudah kembali lagi. Perlu kita ingat Bonucci datang bukan di saat Juventus berjaya, namun sebaliknya, dia datang di saat klub sedang merangkak dan berjuang.

Target utama Juventus musim ini adalah Si Kuping Besar alias trofi Liga Champions. 'Kebosanan' selama tujuh musim berturut-turut mengangkangi kompetisi lokal akan terbayar lunas kala Chiellini dan kolega berhasil mengangkat trofi Liga Champions.

Terus apa hubungannya dengan Bonucci?

Bonucci punya kematangan, pengalaman dan mental juara. Itu yang belum dimiliki Caldara. Juventus rupanya tidak mau berjudi dengan kemampuan Caldara yang belum terbukti.

Pada akhirnya, rumahlah sebaik-baik tempat untuk berlindung. Rumahlah tempat ternyaman untuk menyemai harapan. Harapan untuk meraih Si Kuping Besar.

Selamat datang kembali Si Anak Hilang. Gak boleh nakal lagi ya....

***

Oleh: Meido AP. A man who believe that, believe over hope. 240291. Biasa mangkal di @dsmap_

Share

+1