Mari Berkenalan dengan Fantasista dan Trequartista


Fantasista dan Trequartista

radentv.com - Sepak bola memang permainan yang menarik, banyak taktik, strategi dan varian posisi. Rumitkah? Memang. Namun justru itu yang membuatnya menarik.

Sepak bola sudah menjadi primadona dunia olahraga, disukai hampir seluruh penjuru dunia dengan bermacam alasannya. Sepak bola adalah harga diri, passion, semangat. Bahkan Bill Shankly, salah satu legenda Liverpool, tak ragu untuk mengatakan sepak bola lebih dari sekadar urusan hidup dan mati.

Meski dengan sejuta kerumitannya, sepak bola tetap bisa mengambil hati para penikmatnya, bukan? Bahkan tak jarang yang akhirnya menjadi candu dan menjadikannya sebagai kebutuhan hidup. Bicara tentang sepak bola, tentu tak lepas dari taktik dan strategi. Dua hal yang akhirnya melahirkan bermacam istilah posisi dan peran dari masing-masing pelakunya dalam sebuah tim.

Dari sekian macam istilah dalam posisi dan peran, Fantasista dan Trequartista menjadi dua hal yang cukup menarik untuk dikaji.

FANTASISTA

Fantasista yang namanya terdengar seksi di telinga, diambil dari bahasa Italia. Fantasista memiliki arti fantasi, khayalan atau imajinasi.

Sesungguhnya, Fantasista bukan posisi ataupun peran. Fantasista adalah julukan bagi mereka, para pemain yang kualitas individunya luar biasa dan berteknik tinggi. Para Fantasista ini seolah mampu melihat apa yang tidak terlihat seperti kilasan masa depan dan menciptakan kenyataan dari imajinasinya dengan gerakan, umpan, penetrasi dan hal-hal ajaib lainnya di atas lapangan hijau.

Permainan seorang Fantasista di lapangan, kerap menimbulkan decak kagum dan perasaan berdebar bagi para penonton dan penikmat sepak bola. Memang, tidak ada catatan ataupun aturan khusus di posisi mana seorang Fantasista harus bermain, namun Fantasista lebih sering bermain di lini tengah maupun depan atau bahkan menjalankan kedua peran itu sekaligus.

Roberto Baggio, Johan Cruyff, Diego Maradona, Pele hingga Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, adalah pesepak bola yang pantas dilabeli Fantasista sebab aksi-aksi individual mereka, sungguh eksepsional dan bisa menentukan hasil akhir dari sebuah laga.

TREQUARTISTA

Merujuk pada kalimat ‘mereka yang menjalankan kedua peran itu sekaligus’, maka kita pun sampai pada istilah yang kondang dengan sebutan Trequartista. Dalam bahasa Italia, Trequartista bermakna tiga-perempat. Di lapangan hijau, tiga-perempat yang dimaksud adalah pemain yang area bermainnya ada di tiga-perempat wilayah pertahanan lawan.

Tak seperti pemain-pemain di posisi lain, figur-figur spesial yang mengemban status Trequartista memiliki kebebasan tersendiri saat merumput. Pasalnya ia punya area bermain yang sangat luas dan bisa mengokupansi wilayah tengah ataupun sayap, tapi tetap berada di tiga-perempat area pertahanan musuh.

Sederhananya, ia bukanlah seorang penyerang tapi juga bukan gelandang. Trequartista adalah fusi dari keduanya. Berbekal kemampuan ciamik, seorang Trequartista memiliki kemampuan untuk mengendalikan permainan via giringan dan pergerakan tanpa bola yang baik, bahkan memiliki penyelesaian akhir yang mematikan. Singkat kata, para Trequartista adalah pemain yang punya tugas untuk menciptakan peluang bagi rekan setim maupun bagi dirinya sendiri.

Seringkali Trequartista terlihat seperti menjemput bola, namun sebenarnya ia menunggu di tiga-perempat lapangan untuk memulai keajaibannya dari sana.

Seorang Trequartista tidak akan menahan bola dan menunggu pergerakan dari rekan setimnya, karena ia memiliki kemampuan untuk duel satu lawan satu, melakukan operan ke rekan penyerangnya atau mengonversi peluang ciptaannya sendiri menjadi gol.

Trequartista memiliki perbedaan yang mencolok dalam skema permainan dibandingkan dengan rekan satu timnya yang lain. Trequartista tidak dituntut untuk mengejar bola, bahkan untuk bertahan karena ia memiliki peran yang sangat vital dalam berbagai aspek skema serangan timnya. Maka saat timnya dalam keadaan bertahan, seorang Trequartista terkesan sedang diistirahatkan.

Dalam segi teknik, Trequartista harus memiliki bakat alami dalam mengolah bola, visi bermain, dan kecerdasan yang tinggi dalam menghadapi situasi apapun yang terjadi dalam sebuah pertandingan.
Begitu spesialnya peran bernama Trequartista ini, tak jarang pemain dengan posisi ini memberikan suguhan permainan yang atraktif, menghibur, dengan olah bola kelas tinggi, dan kejeniusannya meracik skema serangan, melepaskan umpan, atau mencetak gol.

Permainan yang melahirkan puja dan puji bagi yang melihat, telah menasbihkan seorang Trequartista seperti implementasi nyata julukan Fantasista itu sendiri. Sebagai contoh nyata di era sepak bola modern, salah satu yang terbaik adalah mantan pemain sekaligus simbol AS Roma, Francesco Totti.
Pada tahun 1999, saat Fabio Capello mengambil alih posisi pelatih AS Roma, dia membangun sebuah tim kuat yang dihuni pemain hebat. Gabriel Batistuta, Marcos Cafu, Vincent Candela, Emerson, Vincenzo Montella dan Totti adalah deretan nama besar yang menghuni skuat asuhan Capello tersebut.


Er Pupone, julukan Totti, menjadi pusat permainan, bermain di belakang dua striker sekaliber Montella dan Batistuta. Di posisi itulah sihir Totti semakin hidup, dan hasilnya AS Roma berhasil menyabet gelar Scudetto Serie A pada musim 2000/2001. Trofi tersebut menjadi raihan bergengsi pertama I Giallorossi dalam rentang 18 tahun terakhir.

Permainan Totti semakin menjadi ketika Luciano Spalletti menangani AS Roma pada musim 2006/2007. Spalletti menerapkan sesuatu yang unik dalam sepak bola dengan pakem 4-6-0.
Totti diplot sebagai pemain terdepan namun diberi keleluasaan untuk menjelajah seluruh area pertahanan lawan. Kala itu, Spalletti meminta Totti untuk membuka ruang bagi pemain lain seperti Amantino Mancini, Simone Perrotta, dan Rodrigo Taddei. Bedanya, tiga nama pamungkas juga beroleh kewajiban bertahan dari sang pelatih.

Berkat kecerdikan Spalletti dan kejeniusan Totti, Roma saat itu menjadi salah satu tim yang permainannya paling atraktif kendati harus puas finis di posisi dua klasemen akhir, tepat di bawah sang kampiun, Internazionale Milano.

Kecerdasannya saat menguasai bola, pemahaman terhadap ruang, sentuhan terhadap bola, akurasi umpan, dan nalurinya untuk mencetak gol, menahbiskan Totti sebagai salah satu Fantasista terbaik yang bermain sebagai Trequartista.

Bahkan sampai saat ini, meski sudah memutuskan untuk gantung sepatu, Totti tetap didapuk sebagai salah satu maestro terbaik di lapangan hijau.

Seperti tak mampu terpisah, julukan Fantasista begitu lekat dengan para Trequartista. Bisa dikatakan bahwa Trequartista adalah implementasi nyata julukan Fantasista itu sendiri. Namun sejatinya, seorang Fantasista tidak selalu adalah seorang Trequartista, seperti yang telah saya ungkapkan di bagian awal artikel.

Rumit? Tentu saja. Namun hal itulah yang membuat sepak bola terasa makin menarik. Perubahan zaman, perubahan taktik dan strategi, pasti akan selalu memunculkan istilah posisi dan peran yang baru, serta tak menutup kemungkinan menghilangkan istilah posisi dan peran yang sudah ada lebih dulu. Termasuk, langkanya sosok-sosok Trequartista pada masa sekarang.

***

Oleh: Nugraha Eka Putra. Bisa disapa di @stickersboy

Share

+1