Bersama Roberto Mancini, Italia Mencari Jati Diri



radentv.com - Disaksikan oleh sekitar 50 ribu pasang mata yang memadati Stadion da Luz di kota Lisbon, Italia kudu mengakui keunggulan tuan rumah Portugal dengan skor 0-1 dalam partai UEFA Nations League di Grup 3 dini hari tadi (11/9).

Dengan hasil tersebut, Gli Azzurri besutan Roberto Mancini untuk sementara terperosok di posisi buncit Grup 3 via koleksi satu angka lantaran di laga perdana versus Polandia (8/9) cuma bermain imbang.

Sebagai negara yang mengusung ambisi bangkit dari keterpurukan pasca-gagal lolos ke Piala Dunia 2018, Italia coba mengintensifkan pembenahan. Hadirnya Roberto Mancini di kursi pelatih serta lenyapnya sosok-sosok veteran macam Andrea Barzagli, Gianluigi Buffon serta Daniele De Rossi dari tubuh skuat, lumayan memberi angin segar.

Walau demikian, mengubah Italia dari sebuah tim yang amburadul menjadi kesebelasan kokoh dan pilih tanding, tentu mustahil dilakukan dalam periode singkat. Ada begitu banyak proses berkala yang wajib dijalani terlebih dahulu demi mencapai tujuan akhir. Nahasnya, proses-proses tersebut tidak selalu manis karena berjubel pula momen-momen pahit, salah satunya jelas kekalahan dari Portugal.

Ibarat sebuah mobil yang sering mogok, Mancini sebagai mekanik punya pekerjaan rumah nan berat untuk membenahi segalanya. Bikin mobil tersebut dapat melaju kembali tanpa gangguan adalah keharusan tapi proses pergantian onderdil, oli hingga air radiator juga tidak bisa dilakukan secara serampangan. Butuh ketelitian sekaligus kehati-hatian agar semuanya berjalan baik dan hasilnya memuaskan.

Sejak ditunjuk sebagai allenatore per bulan Mei 2018 silam, rapor Gli Azzurri di bawah kendali Mancini tergolong kurang apik. Dari lima laga, Ciro Immobile dan kawan-kawan cuma beroleh satu kemenangan sedangkan empat lainnya dibagi rata antara seri dan kekalahan.

Menurut statistik yang dihimpun dari Gracenote Live, kegagalan Italia membungkus angka penuh dari empat pertandingan pamungkasnya adalah catatan terburuk mereka sejak 35 tahun lalu.

Amat wajar apabila tifosi lantas mengkritik habis Mancini yang belum sanggup membawa Italia jadi lebih baik. Namun melontarkan sumpah serapah atau seruan kepada federasi sepak bola Italia (FIGC) untuk memecatnya, bukan solusi yang betul-betul dibutuhkan Gli Azzurri saat ini.

Pada laga kontra Selecao das Quinas, Mancini kembali melakukan sejumlah perubahan di starting eleven. Nama-nama seperti Bryan Cristante, Immobile dan Manuel Lazzari yang di partai melawan Polandia tidak merumput, kali ini diberi kesempatan turun sedari sepak mula.

Guna meredam sekaligus menghunus Portugal, Mancini menurunkan pola dasar 4-3-3 (khususnya pada fase menyerang karena saat bertahan, skema Italia berubah menjadi 4-4-2 di mana Federico Chiesa yang diturunkan sebagai winger kanan, turun cukup jauh sampai ke area tengah bahkan area pertahanan).

Ide yang dibawa Mancini dengan pilihan strateginya amat jelas. Pelatih berusia 53 tahun tersebut ingin anak asuhnya tangguh dan kompak dalam bertahan, cakap manakala menginisiasi serangan dari bawah, tak mudah kehilangan bola, piawai memanfaatkan ruang serta efektif buat menyelesaikan serangan.

Namun sial, Immobile dan kawan-kawan belum bisa memeragakan hal itu secara brilian. Alih-alih bermain gemilang dan menekan Portugal, Gli Azzurri malah jadi pihak yang tertekan. Berbeda jauh dengan kubu tuan rumah, permainan Italia terkesan begitu naif akibat banyaknya kesalahan elementer yang dilakukan.

Saat menguasai bola di area belakang guna menginisiasi serangan, kuartet Lazzari-Mattia Caldara-Alessio Romagnoli-Domenico Criscito belum sepenuhnya nyaman dengan Si Kulit Bundar ada di kaki mereka. Kondisi demikian membuat barisan penyerang Portugal leluasa menggencarkan tekanan sehingga barisan belakang Gli Azzurri acap bikin kesalahan.

Di sisi lain, trio Giacomo Bonaventura-Cristante-Jorginho yang mengokupansi sektor tengah juga gagal menghadirkan rasa aman, kreativitas dan daya ledak. Akibatnya, permainan Italia cenderung monoton karena sulit menerobos area tengah lapangan dan hanya menumpukan serangan via sayap.

Makin lengkap, Immobile dan Simone Zaza yang berdiri sebagai mesin gol utama, payah dalam memanfaatkan peluang (terlepas dari sedikitnya kans yang sukses diciptakan Gli Azzurri) gara-gara tak mampu menerobos barikade pertahanan Selecao das Quinas.

Usaha melakukan perubahan dengan memasukkan Andrea Belotti, Domenico Berardi, dan Emerson Palmieri juga nirhasil karena dampak kehadiran mereka di lapangan kurang terlihat. Belum ciamiknya performa Italia memaksa Mancini untuk bekerja lebih keras lagi. Utamanya buat mengimplementasikan ide-idenya secara sempurna ke dalam permainan tim, tak peduli siapa pemain yang dipanggilnya buat membela panji Gli Azzurri.

Hasil-hasil minor yang dituai Italia sudah pasti meletupkan kesan tak puas dari tifosi. Akan tetapi, tifosi pun harus paham jikalau Italia saat ini bak ulat yang tengah berproses untuk jadi kupu-kupu. Singkat kata, Gli Azzurri sekarang adalah tim semenjana yang kekuatannya jauh di bawah Jerman, Prancis ataupun Spanyol.

Hentikan percakapan atau perdebatan soal keberadaan Roberto Baggio, Franco Baresi, Alessandro Del Piero, Andrea Pirlo, Francesco Totti atau bahkan Giacinto Facchetti yang dahulu bikin Italia mengangkasa. Nostalgia macam itu takkan memberi efek apapun buat perjuangan terkini Italia.


Wajah Gli Azzurri masa kini ‘hanyalah’ Belotti, Gianluigi Donnarumma, Immobile, Jorginho sampai Marco Verratti. Tidak lebih, tidak juga kurang. Level mereka, jelas belum sama dengan nama-nama yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Namun arah perjalanan mereka, sudah ada di trek yang benar.

Maaf beribu maaf, kalaupun ada tifosi yang menganggap bahwa Carlo Ancelotti, Fabio Capello atau malah Marcello Lippi merupakan opsi yang lebih baik dan seharusnya dipilih FIGC buat mereparasi kebobrokan Italia, hal itu tidak lebih dari asumsi belaka.

Misi yang diemban Mancini adalah membangun fondasi Italia yang kuat dan tahan goncangan. Melihatnya berulangkali mengubah susunan pemain, kendati itu juga dilakukan pada laga-laga UEFA Nations League, adalah satu-satunya cara yang bisa ditempuh guna mencari bentuk terbaik tim.

“Sangat berisiko untuk melakukan eksperimen di UEFA Nations League. Namun di momen apalagi saya bisa melakukan hal tersebut guna mencari komposisi terbaik mengingat kami jarang bermain bersama?”, ungkap Mancini seperti dilansir footballitalia.

Pernyataan itu tampak bagaikan sinyal bahwa Italia, mungkin tidak kelewat serius mengejar hasil-hasil positif di edisi pertama UEFA Nations League. Membuat tim ini berkembang dan lolos ke putaran final Piala Eropa 2020 adalah target inti.

“Skuat Italia sekarang dihuni banyak pemain muda yang belum berpengalaman di pentas internasional. Kegagapan, kesalahan, dan problem tentu akan menghantui kami. Butuh waktu cukup panjang agar segalanya sesuai dengan rencana. Dari semua proses itulah, kami bisa belajar untuk jadi lebih baik”.

Usai terpuruk hingga titik nadir sehingga tak merumput di Piala Dunia 2018, Italia di bawah arahan Mancini kini tengah mencari jati diri. Apa yang mereka perbuat dan usahakan, tak melulu perkara kemenangan dalam sebuah pertandingan walau itu satu-satunya cara memuaskan tifosi.

Bersama Mancini, Italia akan berbenah perlahan dengan menyentuh segala aspek dan belajar lebih banyak. Tujuannya pun sederhana, menemukan filosofi serta gaya bermain yang paling paripurna untuk mereka suguhkan di atas lapangan.

Andai hal tersebut sudah berhasil dilakukan, tifosi tak perlu menuntut supaya Immobile dan kawan-kawan selalu menang sebab hal tersebut adalah keniscayaan yang akan hadir dengan gagahnya.

***

Oleh: Budi Windekind. Menggilai sepakbola layaknya gadis-gadis menggemari drama Korea. Bisa dihubungi via Twitter @Windekind_Budi
Share

+1