Hitam-Putih Roberto Donadoni



radentv.com - The Dream Team. Itulah julukan yang disematkan kepada AC Milan di pengujung 1980-an sampai awal 1990-an. Kala itu, skuat I Rossoneri dibanjiri talenta-talenta berkelas dalam wujud trio Belanda yakni Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco van Basten sampai gladiator-gladiator hebat asal Italia macam Franco Baresi, Roberto Donadoni serta Paolo Maldini.

Di bawah arahan Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, nama-nama di atas bersatu padu membawa Milan mencaplok 16 titel. Rinciannya berupa empat Scudetto, empat Piala Super Italia, tiga Liga Champions, tiga Piala Super Eropa hingga sepasang Piala Interkontinental (kini Piala Dunia Antarklub).

Berkat performa menawan seperti itu, lazim rasanya kalau banyak penikmat sepak bola di kolong langit yang jatuh cinta dan lantas menahbiskan diri sebagai Milanisti. Dari sekian penggawa The Dream Team, sosok Baresi, Gullit, Maldini, Rijkaard dan van Basten jelas yang paling populer. Walau begitu, khalayak tak boleh menepikan figur lain semisal Donadoni.


Direkrut dari Atalanta pada musim panas 1986 sekaligus pembelian pertama Silvio Berlusconi sebagai pemilik klub, Donadoni yang ketika itu baru berusia 23 tahun langsung melesat sebagai penggawa inti. Memiliki posisi natural sebagai gelandang sayap, Donadoni jadi bagian integral The Dream Team.

Berbekal energi, kecepatan, kemampuan distribusi bola serta teknik mumpuni, bikin Donadoni bak kepingan puzzle yang melengkapi keganasan sektor depan Milan yang dihuni Gullit, van Basten serta Daniele Massaro dan Dejan Savicevic.

Kendati dikenal sebagai gelandang eksplosif, peran yang diemban Donadoni bersama Milan cenderung membuatnya seperti pelayan sejati bagi para juru gedor. Tak perlu heran kalau pundi-pundi golnya bersama I Rossoneri tak sampai 30 biji.

Mengenakan kostum Milan benar-benar melambungkan karier Donadoni sebagai pesepak bola. Situasi itu pula yang mengantarnya jadi pilar tim nasional Italia plus berkesempatan untuk turun di sejumlah turnamen mayor seperti Piala Dunia 1990 dan 1994 serta Piala Eropa 1988 dan 1996.

Usai memperkuat I Rossoneri selama kurang lebih satu dekade, petualangan Donadoni sebagai pemain berlanjut ke New York/New Jersey MetroStars, lalu kembali ke Milan sampai akhirnya pensiun bareng Al-Ittihad tahun 2000.

Kudu diakui bahwa semasa beraksi di atas rumput hijau, Donadoni amat disegani karena kemampuan dan prestasinya yang menjulang. Mantan penggawa Juventus era 1980-an, Michel Platini, bahkan mendapuk Donadoni sebagai pesepak bola Italia terbaik di era 1990-an.

Begitu kariernya sebagai pemain selesai, Donadoni tak ingin hidup jauh dari riuhnya kancah sepak bola. Ia langsung menempuh pendidikan guna beroleh sertifikat kepelatihan.

Benar saja, di tahun 2001, Donadoni akhirnya beroleh kesempatan untuk menjadi pelatih. Klub kecil dari region Lombardia, Lecco, adalah tim yang berkenan buat menggunakan jasanya.

Masa baktinya di Lecco sendiri cuma berlangsung selama satu musim sebelum akhirnya menerima pinangan klub yang lebih populer, Livorno. Kariernya sebagai juru taktik kemudian berlanjut ke Genoa, Livorno lagi hingga mendapat sebuah tawaran prestisius dengan membesut timnas Italia di tahun 2006.

Menggantikan Marcello Lippi yang berhasil membawa Gli Azzurri memenangi titel dunia keempatnya jelas bukan pekerjaan ringan. Ada begitu banyak ekspektasi dan tekanan yang mengiringi Donadoni.

Kurang impresifnya performa Italia di sejumlah laga bahkan membuat publik berbondong-bondong meminta asosiasi sepak bola Italia (FIGC) untuk memecat Donadoni. Beruntung FIGC tetap mempercayai pria kelahiran Cisano Bergamasco yang saat ini sedang merayakan hari jadi ke-55.

Namun nahas bagi Donadoni, penampilan kurang memuaskan yang diperlihatkan Gianluigi Buffon dan kolega di Piala Eropa 2008, berakhir di fase perempat-final, bikin masa kerjanya disudahi lebih cepat oleh FIGC.

Pasca-rehat sejenak dari melatih, Donadoni kemudian menyepakati tawaran Napoli di tahun 2009. Sialnya, periode kepelatihannya di Stadion San Paolo hanya seumur jagung karena berlangsung delapan bulan saja.

Dirinya lantas berlabuh ke Cagliari selama kurang lebih sepuluh bulan hingga akhirnya jadi allenatore Parma buat dua setengah musim terhitung sejak Januari 2012 sampai Mei 2015. Setelah itu, Donadoni berlabuh ke Bologna untuk duduk di kursi pelatih dalam tempo tiga musim (berakhir pada Mei 2018 kemarin).

Berkebalikan dengan kariernya saat jadi pemain, pencapaian yang digamit Donadoni sebagai pelatih justru kurang mengilap. Tak ada satu buah trofi pun yang berhasil ia kecup dan perjalanan kariernya malah identik dengan pemecatan. Persis seperti warna hitam dan putih yang kontras satu sama lain.
Apa yang terjadi pada Donadoni bukanlah suatu hal yang mengejutkan sebab kasus serupa juga dialami oleh figur-figur lainnya seperti Tony Adams, Roy Keane dan tentu saja, Diego Maradona.

Walau sentuhannya sebagai pelatih belum mampu menghadirkan prestasi, Donadoni masih jadi opsi menarik bagi kesebelasan-kesebelasan menengah ke bawah di Italia (utamanya Serie A) yang saban musim ‘hanya’ memasang target lolos dari degradasi.

Jangan kaget apabila dalam waktu dekat, nama Donadoni bakal diumumkan sebagai pelatih baru di tubuh salah satu klub Serie A yang lajunya sedang terseok-seok.

Buon compleanno, Roberto.

***

Oleh: Budi Windekind. Menggilai sepakbola layaknya gadis-gadis menggemari drama Korea. Bisa dihubungi via Twitter @Windekind_Budi
Share

+1