Karena Roma Tidak Dibangun dalam Semalam


Karena Roma Tidak Dibangun dalam Semalam

radentv.com - Ada tiga hal yang saya ingat ketika mendengar kata Roma, yang pertama ialah mengenai kekaisaran, yang kedua merupakan sang raja dangdut Indonesia dan yang terakhir adalah merek dagang biskuit yang enak dijadikan teman minum kopi.

Ya, bagi saya Roma memang lebih identik dengan ketiga hal tadi. Kalaupun ada yang berusaha memaksa saya untuk mengaitkan Roma dengan salah satu klub sepakbola di Liga Italia, maka pancinglah ingatan saya mengenai Francesco Totti. Karena bagi saya, Totti adalah Roma dan Roma adalah Totti.

Kali ini saya akan coba berbagi sedikit cerita mengenai Roma-nya Totti, AS Roma, salah satu klub besar di Liga Italia yang kiprahnya selalu diperhitungkan dari musim ke musim, terlebih di beberapa musim terakhir. Praktis, selain Napoli, hanya I Giallorossi, julukan AS Roma yang mampu jadi pengganggu bagi Juventus dalam upayanya merajai Serie A.


Kembali ke soal Totti, di antara banyak nama-nama besar yang pernah menjadi bagian dari sejarah panjang klub ini, mungkin cuma Totti yang paling layak menyandang sebagai legenda terbesar klub.
Bahkan namanya jauh lebih dikenal di seluruh dunia ketimbang tim yang berdiri tahun 1927 itu sendiri. Saya adalah satu dari sekian banyak penikmat sepakbola Liga Italia yang diberkahi kesempatan bisa menyaksikan aksi Totti dari saat pertama kali namanya mulai disandingkan dengan pesepak bola hebat lainnya sampai ke pengujung karir sepakbolanya.

Masih jelas dalam ingatan saya, pada musim 2000/2001 Totti pernah membawa Roma menjuarai Serie A bersama deretan pemain-pemain menakutkan sekelas Gabriel Batistuta, Vincenzo Montela, hingga pria ikonik dari Jepang, Hidetoshi Nakata.

Kala itu, mereka bak sebuah tim yang nyaris tanpa cela di semua lini. Kokoh di belakang, superior di tengah, dan buas di penyerangan. Satu kata dari saya mengenai kedigdayaan I Giallorossi di Serie A saat itu: Ter-la-lu...!

Seperti yang terjadi pada banyak klub lain di Serie A masa kini, Roma juga mengalami transisi kepemilikan klub. Dari yang awalnya dimiliki oleh sebuah perusahaan keluarga dan dikelola dengan prinsip-prinsip koperasi (baca: kekeluargaan), menjadi sebuah klub yang dikelola secara modern dan ditangani oleh manajemen yang sangat profesional.

Jika dulu keberlangsungan Roma sangat bergantung dengan isi kantong dari keluarga Sensi selaku pemilik klub, kali ini setiap klub mau tidak mau dipaksa bertahan hidup dengan mencari sumber-sumber pendanaannya sendiri, bisa dari sponsor, bisa juga dari kepesertaan mengikuti kompetisi tertentu, dan lain sebagainya. Intinya adalah memaksimalkan potensi arus uang masuk yang sebesar-besarnya, kemudian mengelolanya seefisien mungkin demi keberlangsungan klub di tahun-tahun mendatang.

Kalau berhasil, maka contoh yang terdekat adalah Juventus. Klub yang model bisnisnya menjadi pionir di Negeri Pizza saat ini. Tak hanya bagus di sektor bisnis, I Bianconeri (julukan Juventus) juga terbukti bagus di kompetisi.

Namun bila tidak berhasil, setidaknya Roma bisa meniru jejak Arsenal. Jarang berprestasi, tapi selalu punya keuntungan selangit dari tahun ke tahun. Teruntuk kasus ini, ada satu pertanyaan yang pasti mengemuka. Bersediakah Romanisti melihat klub kesayangannya seperti Arsenal cabang Italia?

Saat ini, Roma tengah berproses seperti transformasi yang pernah dialami Juventus pasca-Calciopoli. Garis besarnya adalah menyehatkan kondisi keuangan klub lebih dahulu, kemudian berinvestasi pada sisi yang kelak bisa menjadi pintu-pintu baru bagi arus uang yang masuk. Bila semuanya sudah membaik, barulah bicara soal prestasi.

Perlu diketahui bahwa segalanya tidak bisa didapat secara instan. Ya, Roma tidak mungkin dibangun dalam semalam. Butuh waktu yang tidak sebentar, seperti halnya Juventus yang butuh sekurang-kurangnya enam tahun untuk bangkit dari keterpurukan mereka usai Calciopoli.

Sampai di titik ini, secara fair saya tak ragu berkata bahwa Roma telah berada pada jalur yang benar. Perencanaan klub yang baik, manajemen keuangan yang efisien, hingga sponsor yang terus berdatangan adalah bukti sahihnya. Dan jangan lupa, Roma adalah satu-satunya klub Italia yang mampu mencapai semi final Liga Champions musim lalu, bukan Juventus atau Napoli!

Sekarang, mari kita lihat ke dalam inti yang bekerja di sebuah sistem bernama Roma ini. Di Italia pada umumnya, posisi yang paling berpengaruh mengenai maju atau tidaknya sebuah klub, sangat dipengaruhi oleh peran direktur olahraganya.

Jabatan ini memiliki andil besar pada arah pergerakan klub, sebab segala hal yang berkaitan mengenai aktivitas strategis klub, diputuskan oleh seorang direktur olahraga. Roma sangat beruntung karena di masa transisi kepemilikan klubnya pernah memiliki Walter Sabatini sebagai direktur olahraga sejak 2011 hingga 2016 silam.

Sabatini ibarat sosok yang tidak hanya dibebani dengan kebijakan transfer pemain, tetapi juga soal arah kebijakan keuangan klub yang dituntut untuk semakin sehat dan bertumbuh dari tahun ke tahun. Perlu diketahui, bahwa sebelum Roma berpindah kuasa dari tangan Thomas R. DiBenedetto ke James Pallotta, neraca keuangan I Giallorossi terindikasi amat tidak sehat di tangan keluarga Sensi. Di pundak Sabatini, perbaikan kondisi keuangan klub dibebankan.

Sabatini tidak hanya bertangan dingin, ia juga berdarah serta berkepala dingin. Tak terhitung berapa kali sudah Romanisti memprotes kebijakan transfer klub yang dari tahun ke tahun gemar menjual pemain-pemain bintang klub dan menggantinya dengan pemain-pemain muda yang namanya bahkan belum pernah terdengar dari pemberitaan media sama sekali. Momen ini pulalah yang bikin Roma kerap diledek dengan julukan AS RoMart.

Namun profesionalisme yang dibawa Sabatini selalu bisa menaikkan level nyali dan keberaniannya untuk tetap keras kepala demi mewujudkan keinginan DiBenedetto saat itu. Tak peduli bahwa Sabatini harus berhadapan dengan penolakan Romanisti.

Pada musim 2016/2017, Sabatini memutuskan untuk berpisah dengan AS Roma dan bergabung ke Internazionale Milano. Belakangan diketahui, bahwa keputusannya untuk hengkang bermula dari ketidaksepahamannya dengan Pallotta.

Sabatini yang telah berjasa membuat Roma bangkit dan sempat mengorbitkan banyak pemain bintang seperti Erik Lamela, Miralem Pjanic, plus Mohamed Salah, kegerahan sebab terus-terusan dituding sebagai kambing hitam akibat kebijakan transfer klub.

Dalam salah satu kesempatan wawancara, Sabatini mengungkapkan bahwa ia amat kecewa lantaran tifosi terus menyalahkan dirinya karena sering menjual pemain-pemain terbaik yang dimiliki Roma.
Sabatini pun resmi digantikan posisinya oleh mantan direktur olahraga Sevilla, Ramon Rodriguez Verdejo atau biasa disebut Monchi, setelah Roma sempat membiarkan posisi tersebut kosong selama beberapa bulan.

Dari sekian banyak hal yang telah diberikan Sabatini kepada Roma, ia masih sempat meninggalkan salah satu warisan terbesarnya bagi Romanisti. Warisan ini setidaknya baru akan bisa dinikmati dalam beberapa tahun mendatang.

Bersamaan dengan sudah membaiknya keuangan klub, Roma siap memiliki stadion baru yang megah dan sangat modern. Ciamiknya, mereka sendirilah yang memiliki stadion yang konon bernama Stadion della Roma tersebut.

Kembali pada persoalan direktur olahraga klub yang baru. Penunjukkan Monchi tentu bukan tanpa alasan, berbekal kesuksesan di Sevilla, Pallotta membawa Monchi ke Roma dengan alasan kesamaan filosofi dengannya, yakni mencetak uang sebanyak mungkin bagi klub.

Keberhasilan Monchi di Sevilla dengan mencetak uang dari penjualan pemain-pemain muda seperti Dani Alves, Julio Baptista, Ivan Rakitic, Sergio Ramos sampai Jose Antonio Reyes, tentu membuat Pallotta selaku presiden klub tak ragu untuk memberinya jabatan sebagai direktur olahraga.

Benar saja, Monchi tak butuh waktu lama karena langsung bergerak menjalankan tugas agungnya. Salah satu langkah paling mengejutkan Monchi pada awal kedatangannya di Roma yaitu menjual Salah, yang saat itu diidolakan publik Stadion Olimpico, ke Liverpool!

Berapa nominal Salah ketika dilepas Monchi? ‘Cuma’ 40 juta euro! Jumlah yang tentu saja terlalu kecil mengingat betapa meledaknya performa Salah di Liverpool. Lantas siapa yang dibeli Monchi sebagai pengganti Salah? Dialah Patrik Schick, pemain yang gagal lolos dalam tes medis di Juventus. Romanisti jelas tidak senang dengan keputusan ini.

Akan tetapi Monchi punya dalih kuat, sepeninggal Sabatini, Roma memang sempat dibayang-bayangi oleh sanksi FFP dari UEFA. Pembangunan kompleks stadion baru yang bernilai 300 juta euro milik Roma disebut-sebut sebagai akar persoalan mengapa Monchi harus mengikuti jejak Sabatini dalam menjual pemain-pemain bintang mereka guna menyehatkan kembali keuangan klub.

Di awal musim ini, Roma sudah kehilangan tiga orang pilarnya sekaligus. Mereka adalah Alisson Becker, Radja Nainggolan dan Kevin Strootman. Entah apa yang ada di benak Monchi saat ini, padahal kalau boleh jujur, ketiga nama tadi ialah pemain-pemain yang paling berperan penting dalam mengantarkan Roma lolos ke semi final Liga Champions musim lalu.

Mengapa Monchi sampai menjual ketiganya bersamaan? Apa urgensinya menjual pemain vital klub yang secara beban gaji tidak terlalu signifikan? Lagipula, ke mana hadiah uang dari Liga Champions musim lalu?

Monchi tentu punya alasan. Alasan yang barangkali saya dan kita semua sulit untuk bisa menerimanya. Tetapi kembali lagi, mari kita melihat Roma secara fair dan menyeluruh, tidak terpaku hanya dari sisi bursa transfer pemainnya saja.

Monchi, bagaimanapun juga, pasti memiliki perhitungannya sendiri. Kalkulasi yang tentu bukan saja ia sendiri yang merumuskan, tetapi dari berbagai masukan dari orang-orang yang memang piawai di bidangnya. Seperti halnya input dari pelatih Roma saat ini, Eusebio Di Francesco, yang  kedatangannya sempat diragukan di awal musim lalu, tapi berakhir membanggakan di akhir musim.
Monchi butuh waktu memulihkan keuangan klub sepeninggal Sabatini. Seperti halnya kota Roma yang tak cukup dibangun dalam waktu semalam. Sejauh ini, manajemen Roma yang dikomandoi Monchi sudah membawa klub ini pada jalan yang tepat.

Romanisti hanya perlu sedikit bersabar, hingga kondisi keuangan klub tidak lagi sekedar membaik, tetapi juga bertumbuh dari tahun ke tahun. Pada saatnya nanti, ketika segala sesuatunya sudah sebaik yang direncanakan, bisa jadi kebijakan transfer Roma sudah tak lagi seperti sekarang ini.

Akan ada Alisson baru di bawah mistar gawang, akan ada Cafu, Walter Samuel, Nakata atau bahkan Pjanic versi upgrade di lini belakang dan tengah. Serta boleh jadi, akan ada Totti dan Gabriel Batistuta versi 2.0 untuk mengisi barisan depan.

Bayangkan betapa menggilanya jika pemain-pemain tadi bermain di stadion klub yang baru, dikelilingi energi para fans yang begitu dekat, menyemangati mereka, sekaligus menghadirkan teror mengerikan bagi lawan.

Diakui atau tidak, cepat atau lambat Roma akan sanggup mengejar Juventus, sekaligus menyejajarkan dirinya sebagai penguasa Serie A. Kelak, kompetisi teratas di Negeri Pizza tersebut bakal punya dua raksasa yang tidak hanya saling bunuh di liga, tapi juga berdarah-darah membawa nama Italia untuk mengganyang dominasi kesebelasan dari La Liga Spanyol atau Liga Primer Inggris di ajang Liga Champions.

***

Oleh: Handi Aditya. Tifosi Serie A pecinta gowes yang tersesat di dunia HRD. Bisa ditemui di @handipsi
Share

+1