Balada Mattia Caldara


Balada Caldara

radentv.com - Pada bursa transfer musim panas kemarin terjadi proses tukar guling pemain yang cukup mengejutkan jagad Serie A. Pasalnya, hal tersebut melibatkan sepasang klub papan atas, AC Milan dan Juventus. Saat itu, kedua belah pihak sepakat untuk menukar Leonardo Bonucci dengan Mattia Caldara plus uang tunai sebesar 35 juta euro.

Tatkala aktivitas transfer ini selesai dilaksanakan, perasaan campur aduk pun menggeliat di dada Milanisti maupun Juventini, kelompok suporter dari dua tim tersebut. Masing-masing kubu mengklaim bahwa keputusan timnya adalah yang terbaik.

Namun seiring waktu (setidaknya hingga musim 2018/2019 memasuki bulan November), Juventini yang menerima kepulangan Bonucci ke Stadion Allianz boleh menepuk dada.

Semenjak mengenakan kostum I Bianconeri lagi, Bonucci langsung jadi pilihan utama Massimiliano Allegri di sektor pertahanan. Entah bersanding dengan Andrea Barzagli, Medhi Benatia maupun Giorgio Chiellini. Hebatnya, performa ciamik Bonucci juga membuat gawang Juventus yang dikawal Wojciech Szczesny baru bergetar sebanyak 7 kali di Serie A.

Bahkan dalam ajang Liga Champions, Bonucci yang tak pernah absen juga berhasil membuat gawang I Bianconeri tetap perawan hingga matchday ketiga. Memukau? Tentu saja.

Bertolak belakang dengan kisah apik Bonucci, nasib Caldara di Milan justru agak menyedihkan. Alih-alih melesat sebagai bintang baru di jantung pertahanan I Rossoneri seperti harapan Milanisti, figur berusia 24 tahun ini malah akrab dengan meja perawatan.

Terbaru, seperti dilansir oleh 90min, pelatih Milan, Gennaro Gattuso, mengonfirmasi jikalau Caldara kemungkinan absen sampai dua bulan ke depan akibat cedera ligamen yang dialaminya lebih parah ketimbang dugaan awal.

“Kehilangan Caldara dalam tempo yang lumayan lama jelas buruk bagi kami”, ungkap Gattuso penuh kekecewaan.

Sejauh ini, bekas serdadu Atalanta tersebut baru satu kali turun ke lapangan dengan seragam I Rossoneri. Tepatnya pada laga Liga Europa versus Dudelange di bulan September silam. Gangguan fisik yang belum jua beranjak dari tubuh Caldara membuatnya belum sekalipun berjibaku di Serie A.

Sialnya, tanpa Caldara yang diproyeksikan jadi tembok tangguh di zona pertahanan (bersama Alessio Romagnoli), Milan yang sampai tulisan ini tayang bertengger di posisi lima classifica punya masalah akut dalam hal kebobolan.

Dari sembilan partai yang mereka lakoni (Milan masih punya tabungan satu pertandingan tunda kontra Genoa), jala Gianluigi Donnarumma sudah koyak 13 kali. Artinya, mereka punya rasio kemasukan 1,4 gol per laga. Catatan tersebut bahkan lebih jeblok daripada milik Sampdoria yang menghuni peringkat ketujuh (kebobolan 7 kali dari 10 laga alias punya rataan kebobolan 0,7 gol per pertandingan).


Lebih jauh, I Rossoneri juga menahbiskan dirinya sebagai satu-satunya klub Serie A yang belum pernah mencatatkan cleansheet di musim ini. Lagi-lagi, statistik ini bahkan lebih buruk daripada Chievo Verona, Empoli, dan Frosinone, tiga kesebelasan yang sekarang menempati zona degradasi.

Wajar apabila Milanisti khawatir dengan performa lini belakang timnya. Kalau hasil-hasil laga I Rossoneri tampak inkonsisten, salah satu penyebabnya tentulah rekor kebobolan yang buruk itu. Brilian di satu pertandingan tapi amburadul di laga-laga lainnya seolah jadi trademark Donnarumma dan kawan-kawan pada musim 2018/2019.

Rumor yang menyebut bahwa manajemen Milan siap berburu bek tengah anyar di bursa transfer musim dingin nanti terlihat sebagai opsi yang logis karena bagaimanapun juga, jantung pertahanan I Rossoneri butuh suntikan tenaga baru sebab mereka bertempur dalam tiga kompetisi sekaligus di musim 2018/2019 (Serie A, Coppa Italia, dan Liga Europa).

Terlebih, Mateo Musacchio, Romagnoli dan Cristian Zapata yang selama ini diandalkan Gattuso untuk melindungi Donnarumma juga kepayahan memperlihatkan aksi paripurnanya.

Bareng Romagnoli, Caldara dicatut Milanisti sebagai penerus kekokohan Alessandro Costacurta, Paolo Maldini, dan Alessandro Nesta di lini belakang Milan pada masa yang akan datang. Sebuah pengharapan tinggi dan wajar mengingat potensi ciamik pemuda kelahiran Bergamo tersebut.

Namun di sisi lain, Milanisti pun tak sepatutnya ingkar jika perekrutan Caldara tak memberikan efek positif apapun sejauh ini walau I Rossoneri sedang mengincar kebangkitan. Situasi yang berbeda amat jauh malah dialami Bonucci di Juventus.

Lekas pulih, Caldara. Milan membutuhkanmu!

***

Oleh: Budi Windekind. Menggilai sepakbola layaknya gadis-gadis menggemari drama Korea. Bisa dihubungi via Twitter @Windekind_Budi

Share

+1