Juventus, Sepanjang Nafas Del Piero Berembus


Juventus, Sepanjang Nafas Del Piero Berembus

radentv.com - Bukan Alessandro Del Piero, tapi tubuh ringkih, wajah tampan, dan rambut belah tengah Filippo Inzaghi yang menjadi alasan pertama saya menyukai Juventus.

Selain tampilan fisiknya, Super Pippo mudah saja saya tunjuk sebagai idola karena karakter ortodoksnya di depan jala lawan. Ia gemar mencetak gol-gol yang hampir muskil dilakukan oleh penyerang-penyerang lain.

Sementara tandemnya di lini depan La Vecchia Signora saat itu, Alessandro Del Piero, dikenal sebagai striker flamboyan, pengejawantahan segala keindahan sepak bola dan laki-laki Italia. Ia memiliki kemampuan mumpuni dalam olah bola sekaligus mempunyai wajah rupawan khas negeri Pizza.

Namun entah mengapa sosok yang identik dengan nomor punggung 10 ini justru tidak memenuhi fantasi masa kanak-kanak saya.

Juventus kadung lekat di hati saat Filippo Inzaghi pindah ke kota Milano untuk bergabung dengan AC. Milan pada 2001. Sementara itu Del Piero muda mulai dipercaya mengemban ban kapten dan menjadi tumpuan Juventus. Saat itulah saya sadar, bukan Inzaghi ataupun lainnya, melainkan Alessandro Del Piero sosok ikonik yang akan menjadi representasi Juventus di tahun-tahun berikutnya.


Turin, 2006

"Laki-laki sejati tidak akan meninggalkan kekasih yang dicintainya." Del Piero mengucapkan itu saat Juventus tersandung kasus Calciopoli pada 2006 lalu. Kapal mewah bernama Juventus itu tiba-tiba saja limbung. Setelah berbagai penyelidikan, otoritas hukum di Italia memvonis Juventus sebagai dalang utama kasus Calciopoli. Akibatnya, Bianconeri dijatuhi hukuman degradasi ke Seri B serta memulai musim dengan minus 9 poin.

Beberapa pemain bintang seperti Lilian Thuram, Gianluca Zambrotta, Fabio Cannavaro, Patrick Vieira, dan Zlatan Ibrahimovic memilih pergi demi menyelamatkan karir mereka. Hal wajar yang tak bisa disalahkan. Tapi pemain-pemain yang justru memilih untuk tetap tinggal di tengah kapal yang sedang karam, menjadi hal puitik dan langka dalam sepak bola yang  menuntut untuk terus eksis demi gengsi dan nama besar.

Dan nama Del Piero adalah salah satu hal paling puitis di dunia sepakbola.

21 Mei 2012

Di kotak penalti Juventus, Giorgio Chiellini memutus alur serangan yang coba dibangun oleh anak-anak dari Bergamo. Bola liar kemudian  jatuh ke kaki Simone Padoin yang langsung mengumpannya ke Del Piero yang siaga di tengah lapangan.  Del Piero menggiring bola menuju pertahanan Atalanta yang tampak kelimpungan menghadapi serangan balik tiba-tiba.

Tim biru-hitam yang saat itu diampu oleh Stefano Colantuono hanya menyiskan dua bek tengah yang sepanjang pertandingan tampak terus membayangi pergerakan Del Piero. Sementara itu, melihat kecilnya probabilitas dan sempitnya sudut untuk mencetak gol, King Alex mengoper bola pada Emanuele Giacherrini yang berlari dan berusaha menyokong pergerakan Del Piero dari sisi kanan pertahanan Atalanta.

Sebelum Giacherrini mengoper kembali ke sang kapten, Del Piero mencoba mencari ruang dengan menahan laju tubuhnya agar menjauh dari dua bek tengah Atalanta. Ketika Giacherrini mengumpan kembali, Del Piero sudah berada di posisi yang tepat untuk meluncurkan tendangan plessing-nya. Bola meluncur, memantul ke tanah sebelum jatuh ke sudut bawah sebelah kanan gawang Atalanta.

Menaklukkan kiper Atalanta yang terjerembab tak berdaya di bawah mistar.  Sebuah gol yang indah.
Gol tersebut merupakan tipikal sejumlah gol-gol Ale yang ia cetak sepanjang 48.785 menit dalam 704 pertandingan pada kurun waktu 19 tahun karirnya bersama Juventus. Berseni dan berkelas. Gol alla Del Piero.

Jadi, sangat beralasan mengapa Juventini menyematkan Il Pintruricchio sebagai julukan King Alex. Pinturicchio sendiri adalah salah satu pelukis terkenal yang hidup pada era renaisans. Jika Pinturicchio melukis dengan kuas untuk menghasilkan gambar yang indah, Del Piero melukis keindahan sepak bola melalui kakinya.

Gol yang ia cetak pada sebuah malam yang dingin tertanggal 21 Mei itu adalah gol terakhir yang ia cetak untuk Juventus, kekasihnya. Selepas menceploskan gol tersebut, Alessandro Del Piero melakukan selebrasi dengan menjulurkan lidahnya. Selebrasi yang begitu dengan dirinya bahkan hingga saat ini poster dengan selebrasi tersebut selalu berkibar di Allianz Stadium setiap kali Si Nyonya Tua bertanding.

Pemain-pemain Juve yang lain kemudian datang mengerubunginya, memeluknya lebih erat dan dalam. Antonio Conte di pinggir lapangan berteriak histeris. Sementara presiden klub, Andrea Agnelli yang berada satu tribun dengan keluarga besar Del Piero memberikan tepuk tangan yang panjang. Del Piero membalasnya dengan lambaian dan senyuman.

Sepanjang pertandingan itu suasana menjadi begitu emosional. Semua penonton berdiri memberikan penghormatan ketika Del Piero ditarik keluar pada menit ke-57 digantikan oleh Simone Pepe. Del Piero kemudian berjalan mengelilingi stadion yang ketika itu masih bernama Juventus Stadium sebagai seremonial perpisahan.

Jalannya pertandingan tak lagi penting, sebab kamera televisi lebih banyak menyoroti sosok Del Piero. Poster-poster dengan gambar dirinya terbentang lebar, tak sedikit para fans yang menangis karena merasa kehilangan, dan aplaus panjang terus menggema dari setiap tribun. Del Piero berusaha tampak terlihat kuat dan tegar.

Manajemen Juventus memang memutuskan untuk tidak memberinya perpanjangan kontrak. Manajemen Juve menceraikan dirinya dan mengabaikan nubuatnya tentang kesetiaan yang diucapkan 5 tahun sebelumnya. Del Piero berhak dan patut kecewa setelah apa yang ia berikan dan korbankan.  Walaupun saya pikir kekecewaannya tidak akan pernah lebih besar dari rasa cintanya kepada Juventus.

Perjalanan Del Piero selama berseragam hitam putih mengajarkan banyak hal, dedikasi, kesetiaan, kebesaran hati, dan cinta tanpa pamrih. Dan karena alasan-alasan itulah, akhirnya saya putuskan untuk jatuh cinta sedalam-dalamnya pada sosok Alessandro, Il Pinturicchio, Del Piero.

Oleh: Fahmin. Bisa ditemui di @vchmn22

Share

+1