Beda Nasib Dua Callejon

Beda Nasib Callejon

Beda Nasib Dua Callejon

radentv.com – Bagi bocah-bocah penggemar sepakbola di Spanyol, bisa bergabung dengan akademi Real Madrid pasti amat membahagiakan sekaligus membanggakan karena untuk mencapai hal tersebut sungguh tidak mudah. Hal ini juga yang dirasakan oleh si kembar Jose dan Juanmi Callejon dahulu.

Sedari belia, Jose dan Juanmi sudah memperlihatkan ketertarikan teramat tinggi pada bal-balan. Kenyataan itu mendorong orang tua mereka untuk mencarikan akademi sepakbola terbaik sehingga kemampuan Jose dan Juanmi dapat terasah dengan paripurna.

Usai menimba ilmu di Costa Tropical, akademi Real Madrid jadi pelabuhan Jose dan Juanmi per tahun 2002. Asiknya, sinar keduanya merona bersama Real Madrid Castilla (sebutan untuk tim junior Los Blancos).

Baik merumput bersama tim C maupun tim B, Jose dan Juanmi yang sama-sama bermain sebagai gelandang ataupun winger, senantiasa tampil memuaskan. Tak heran bila mereka selalu diandalkan. Oleh beberapa pengamat, Jose dan Juanmi bahkan disebut-sebut bakal menjadi pilar tim utama Madrid di masa depan.

Sayangnya, perkiraan itu jauh panggang dari api. Bukannya mendapat kesempatan maksimal untuk bermain di tim utama, roda nasib justru membawa mereka jauh dari Stadion Santiago Bernabeu.

Terhitung sejak tahun 2008 dan memasuki level senior, Jose memulai petualangan baru di Espanyol sedangkan Juanmi membela Real Mallorca. Momen itu sendiri jadi perpisahan pertama mereka sejak menekuni dunia sepakbola.

Antara Bolivia dan Italia

Menariknya, peristiwa tersebut juga menandai perjalanan karier yang sangat berbeda dari si kembar. Tatkala Jose bermain apik dan awet merumput di Stadion RCDE dan menjadi pujaan baru para penggemar Espanyol, Juanmi malah jadi figur yang nomaden dengan terus berpindah-pindah klub. Mulai dari Albacete, Cordoba hingga Hercules.

Bahkan, selepas membela klub yang disebut terakhir selama dua musim, Juanmi terdampar di Yunani guna memperkuat Levadiakos. Di sisi lain, Jose malah menikmati ‘kepulangannya’ ke Stadion Santiago Bernabeu usai dicomot Los Blancos via banderol 5,5 juta euro.

Walau hanya memanggul peran pengganti sebab di lini depan Madrid saat itu berjubel nama-nama pemain bintang seperti Karim Benzema, Angel Di Maria, Gonzalo Higuain, dan Cristiano Ronaldo, Jose tak pernah mengecewakan setiap dipercaya merumput.

Hasilnya pun manis karena dirinya ikut berkontribusi atas gelar La Liga di musim 2011/2012 tersebut seraya mematahkan dominasi sang rival bebuyutan, Barcelona. Prestasi itu sendiri merupakan yang pertama bagi Los Blancos sejak musim 2007/2008.

Membela Madrid selama dua musim dirasa cukup oleh Jose yang menginginkan petualangan baru sekaligus posisi inti. Di saat itu jugalah Napoli datang memberikan penawaran yang tanpa ragu, langsung diterimanya. Per musim 2013/2014, Jose pun resmi mencicipi panggung Serie A dengan baju I Partenopei.

Bersamaan dengan hijrahnya Jose ke Italia, Juanmi juga memulai cerita anyarnya sendiri. Namun demikian, jalan yang dipilihnya sungguh tak terduga. Alih-alih meneruskan kariernya di Eropa, sosok dengan tinggi badan sama seperti Jose itu malah pindah ke Amerika Latin, tepatnya Bolivia. Di sana, ia bergabung dengan salah satu klub raksasa, Club Bolivar.

Membela La Academia, Juanmi sukses mematri namanya sebagai pemain utama. Aksi-aksinya membuat suporter Bolivar jatuh cinta. Sayangnya, ia belum mampu menghadiahi trofi juara bagi klub yang bermarkas di Stadion Hernando Siles tersebut dalam rentang 2013-2017 sampai akhirnya memilih hengkang ke Arab Saudi untuk memperkuat Al Ettifaq.

Sebaliknya, pada periode yang sama Jose malah sudah mengecup manisnya titel Piala Italia 2013/2014 dan Piala Super Italia 2014. Sebuah prestasi yang paling gres dari Napoli hingga detik ini. Bahkan, Jose sempat menikmati bagaimana rasanya mengenakan seragam tim nasional Spanyol.

Kini, posisi Jose makin kukuh sebagai salah satu penggawa inti Napoli dalam mengarungi berbagai ajang yang mereka ikuti. Di sisi seberang, waktu yang dihabiskan Juanmi di Arab Saudi hanya singkat karena per tahun 2018 lalu, ia ‘mudik’ lagi ke Bolivar. Wajar bila muncul anggapan kalau karier sepakbola Jose lebih mentereng daripada Juanmi. Sebuah hal yang ditolak mentah-mentah oleh Jose.

Kelindan hidup, pada faktanya memang acap memberi sesuatu hal yang berbeda jauh dari sepasang saudara kembar, termasuk Jose dan Juanmi. Namun nyatanya mereka tetap saling mendukung pilihan masing-masing dalam berkarier.

***

Oleh: Budi Windekind. Bisa disapa di @Windekind_Budi

Leave a Reply

Your email address will not be published.