Bermain-main dengan Bahaya ala Allegri

Max Allegri

Max Allegri

radentv.com –  Pertengahan tahun 2009, ketika masih berseragam Manchester United, Cristiano Ronaldo pernah sekali waktu menyempatkan diri untuk datang ke Indonesia dan berlibur di Bali. Kunjungannya saat itu cukup mendapat sorotan yang luas, baik dari media-media lokal maupun internasional, mengingat saat itu Ronaldo tengah diisukan akan hengkang menuju klub tersukses di dunia, Real Madrid.

Selain untuk berlibur, kedatangan Ronaldo ke Bali saat itu ternyata juga dalam rangka untuk memenuhi urusan kontrak iklan dari salah satu perusahaan minuman energi di Indonesia. Mungkin banyak di antara kita yang masih ingat dengan adegan pada iklan minuman energi tersebut.

Dalam iklan itu Ronaldo digambarkan seolah mendapat tambahan tenaga ekstra setelah meneguk habis segelas penuh minuman energi. Kemudian saat ia mencoba memainkan sepakbola api bersama penduduk lokal, ia tak sengaja menendang bolanya ke atas dengan sangat keras, setelah itu bolanya tak pernah turun kembali, konon katanya sampai hari ini.

Kini, berselang sepuluh tahun setelahnya. Siapa mengira Ronaldo akan kembali memainkan sepakbola yang sama, seperti yang pernah dilakukannya dalam adegan iklannya dulu. Namun kali ini dimainkan dalam pertandingan yang sebenarnya, bersama tim barunya sekarang, Juventus.

Sepakbola api sendiri merupakan permainan tradisional yang begitu populer di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya di lingkungan pesantren. Permainan ini biasanya dimainkan di bulan Ramadhan oleh para santri, untuk sekadar mengisi waktu jelang berbuka puasa.

Tidak ada keahlian khusus yang dibutuhkan untuk melakukan permainan ini, cukup bermodal keberanian, maka siapapun sudah bisa ikut menyepak-nyepak bola yang bahannya dibuat dari batok kelapa, dilumuri minyak tanah, kemudian dibakar.

Tidak ada unsur magis dalam permainan sepakbola api seperti anggapan banyak orang. Permainan ini murni mengandalkan keberanian dan keterampilan. Setiap pemain dituntut untuk selihai dan secepat mungkin dalam menyentuh bola, kemudian menceploskannya ke gawang lawan. Sesederhana itu.

Banyak orang menyukai permainan ini sebagai bentuk tontonan ataupun hiburan yang menawarkan resiko. Tetapi tak sedikit yang mencibir, karena apa untungnya bermain-main dengan sesuatu yang bisa melukai diri sendiri? Namun barangkali hal-hal menantang bahaya semacam ini pula yang begitu disukai oleh Allegri, pelatih Juventus dalam meracik strateginya: menggelitik nyali, memainkan bahaya.

Ia berbeda paham dengan Pep Guardiola, yang memainkan sepakbola tiki-taka untuk menggempur habis pertahanan lawan dari berbagai sisi, pun demikian halnya dengan gegenpressing milik Juergen Klopp yang memainkan sepakbola full pressing dari setiap lini, guna merusak dan mengoyak-oyak skema permainan lawan sampai tak berpola sama sekali.

Allegri tidak sebernafsu itu. Anggapan “pertahanan terbaik adalah menyerang” sepertinya tidak berlaku bagi Allegri. Baginya, sepakbola memerlukan seni dan ketelatenan taktikal. Tidak ada seekor laba-laba yang bisa menangkap mangsanya yang bisa terbang, kecuali dengan terlebih dahulu menenun jaring untuk menjerat mangsanya dengan sangat indah, rapih dan hati-hati.

Itulah mengapa, di laga melawan Atletico Madrid di fase gugur Liga Champions dini hari kemarin, Allegri lebih memilih memainkan De Sciglio ketimbang Cancelo, serta memasang Rodrigo Bentancur dan membangkucadangkan Emre Can.

Bermain dengan pola 4-3-3, Allegri berjudi dengan menempatkan Matuidi menggantikan Khedira yang tengah absen, untuk menjadi gelandang penyeimbang, sekaligus menusuk ke kotak 16. Sementara Pjanic, lebih diproyeksikan untuk mengatur ritme serangan agar tak melulu berhulu dari sayap yang dikomandoi Alex Sandro dan De Sciglio.

Di depan, kombinasi Ronaldo, Mandzukic dan Dybala, sepintas menawarkan daya serang yang cukup menjanjikan. Terlebih kekompakkan ketiganya sudah sangat teruji di liga lokal. Rasa-rasanya mengimbangi permainan Atletico bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Tetapi barangkali Allegri lupa, lawan yang tengah dihadapinya kali ini ialah klub yang diarsiteki oleh pelatih sekelas Diego Simeone. Pelatih yang memiliki variasi dan kekayaan taktikal setara dengan Allegri.

Skema 4-3-3 Allegri ini sempat berhasil di babak pertama. Juventus tampak mampu sedikit mendominasi penguasaan bola ketimbang tuan rumah. Namun efektivitas serangan yang kemudian berhasil dikonversi menjadi peluang, tidaklah sebanding dengan besaran prosentase penguasaan bola yang dimiliki. Terlihat sekali Juventus begitu kesulitan dalam membongkar pertahanan Atletico. Bahkan tampak sekali anak-anak asuh Allegri ini tak cakap menjalani posisinya masing-masing.

Matuidi yang pada awalnya diplot sebagai pengganti Sami Khedira, tampak kebingungan menjalani perannya yang secara bersamaan harus melindungi pergerakan Pjanic. Sementara Bentancur, lebih sering tertinggal di belakang ketimbang menemani Pjanic dalam membangun serangan dari tengah.

Di sektor sayap kiri, Alex Sandro seolah bermain tidak dalam performa terbaiknya. Berkali-kali kehilangan bola, serta salah dalam membaca pergerakan pemain depan, membuat bola yang berada di kakinya lebih terasa sia-sia.

Di sektor kanan pun tak kalah mandegnya. Pergerakan De Sciglio seolah tertahan ketika seharusnya ia dalam kondisi membantu penyerangan. Posisinya justru lebih sering ditambal oleh Dybala yang menyisir sampai ke tengah. Pjanic yang awalnya diharapkan bisa memberikan variasi serangan dari tengah, tak mampu berbuat banyak karena pergerakannya menjadi tak terlindungi akibat Bentancur yang bermain terlalu ke belakang.

Satu-satunya pemain yang layak mendapat apresiasi malam itu sepertinya hanyalah Ronaldo. Mendapat sambutan tak bersahabat dari fans tuan rumah, Ronaldo tetap bermain apik, meski seringkali terlihat frustrasi tak mendapat pelayanan dari rekan-rekannya. Ronaldo bahkan sering terlihat mundur jauh ke belakang, menjemput bola, serta menciptakan sendiri peluang walau masih belum berbuah hasil.

Tak mulusnya strategi Allegri dimanfaatkan baik oleh Simeone dengan memasukkan pemain-pemain bertipikal cepat semisal Morata, Lemar dan Angel Correa. Dengan cerdik, ia menempatkan Morata untuk berhadapan langsung dengan Chiellini dan Bonucci yang mulai kehabisan stamina, khususnya Bonucci yang entah mengapa di malam itu menjadi mudah sekali terjatuh. Sementara Correa ditempatkan bertukar posisi dengan Griezman yang sudah barang tentu membuat kebingungan bagi Chiellini dan Bonucci.

Simeone seolah tahu persis di titik mana ia bisa menusuk pada celah-celah pertahanan Juve yang malam itu tidak lagi superior. Sementara dari sisi Allegri, ia seolah masih percaya bahwa skema yang dibawanya ini, akan bisa menuai hasil yang diharapkan. Seperti halnya seekor laba-laba yang sabar menenun jaringnya, ia masih berharap mangsanya bisa jatuh dan terjerat oleh perangkap yang telah dibuatnya itu.

Allegri seolah memang terlahir dengan bakat menggemari bahaya, serta senang mengelitiki nyali. Ia seperti tak perduli bahwa yang tengah dihadapinya adalah seorang Diego Simeone, bukan Coach Justin. Maka ketika anak-anak asuhnya lengah, Juventus dihukum oleh dua gol cepat dari Atletico, yang kedua-duanya berawal dari bola set-piece yang gagal diantisipasi pemain-pemain Juventus.

Ironisnya dalam gol pertama ini, ada sekitar 7 orang pemain Juventus di area kotak penalti, termasuk Ronaldo dan Mandzukic. Namun hampir semuanya luput dalam menjaga pergerakan Gimenez.

Berselang lima menit dari gol pertama, Atletico kembali menghukum Juventus, lagi-lagi dari sebuah set-piece. Berawal dari tendangan bebas ke sudut kiri pertahanan Juventus. Rodrigo Bentancur yang tak mampu menjangkau bola dengan kepalanya, memaksa Mandzukic lagi-lagi menyapu bola dari depan gawang Szczesny. Sayang, bola muntah justru jatuh ke kaki Diego Godin yang tanpa ampun menghujamkan sepakan keras ke gawang Szczesny, yang terlanjur mati langkah. 2-0 untuk Atletico.

Kegagalan para pemain Juventus dalam mengantisipasi bola-bola set-piece Atletico, agaknya ialah hal yang terjadi di luar rencana Allegri. Allegri seolah terhenyak, tak menyangka. Sebab jaring yang telah ia tenun dengan sangat hati-hati, justru telah menjerat dirinya sendiri.

Allegri barangkali tak habis pikir, bagaimana barisan pertahanan anak asuhnya, khususnya Chiellini dan Bonucci, bisa sangat ceroboh dalam menjaga daerahnya. Bagi Bonucci sendiri, proses terjadinya kedua gol ini, sedikit banyak tak lepas dari kesalahannya. Ketika di gol pertama ia tak lekas bangkit setelah terjatuh saat berduel udara & justru mengemis pelanggaran.

Di gol kedua ia mengulang kesalahan yang sama, bahkan lebih parah lagi. Ia dan Chiellini gagal membaca arah bola, dan membiarkan Mandzukic sendirian menghalau bola, kemudian tertegun, tanpa ada upaya lain menutup ruang tembak dari bola liar yang kemudian bisa dimaksimalkan oleh Godin menjadi gol. Tak heran jika para Juventini mulai banyak yang menjuluki Bonucci “Lord Bengong“.

Allegri memang bukan tanpa upaya dalam mengejar ketertinggalan. Ia sempat bereaksi dengan mengganti Dybala dengan Bernardeschi, Matuidi dengan Cancelo, serta memasukkan Emre Can dan mengistirahatkan Pjanic. Tetapi pergantian pemain yang telat, serta konsentrasi pemain Juventus yang sudah keburu terpecah, membuat perubahan skema yang dijalankan tidak cukup waktu untuk memberikan hasil yang positif.

Juventus akhirnya harus pulang dengan tangan hampa malam itu, dengan defisit dua gol yang harus dikejar di Turin jika ingin lolos ke babak berikutnya.

Sekali lagi kita diperlihatkan, betapa Allegri telah dikalahkan bukan karena inferioritas pasukannya, tetapi oleh blunder strategi yang telah dimainkannya sendiri. Sedikit menengok ke belakang, ketika Juventus dipermalukan 0-3 oleh Atalanta di Coppa, serta dipaksa bermain imbang 3-3 oleh Parma di liga. Tak lain adalah akibat dari buah strategi Allegri yang gemar menyusahkan dirinya sendiri.

Tetapi apapun itu, Allegri tetaplah pelatih jenius yang sangat diperhitungkan lawan-lawannya. Kekayaan taktikal serta keberaniannya tak perlu diragukan lagi oleh siapapun. Pelatih gila mana lagi yang berani bereksperimen dengan skema dan taktiknya, bahkan saat klub yang ditanganinya sendiri tengah menghadapi ajang sekelas Final Liga Champions? Cuma seorang Allegri!

Juventus kini tertinggal agregat 0-2 dari Atletico, masih ada peluang bagi Allegri untuk bisa membalikkan keadaan di leg kedua, ketika ia dan anak asuhnya menjamu Atletico di Allianz Stadium mendatang. Namun satu hal yang perlu diingat baik-baik oleh Allegri, ibarat tengah bermain sepakbola api dalam adegan iklan yang diperankan Ronaldo dulu, Allegri harus segera sadar, bahwa semakin lama bola berada di kaki kita, semakin tinggi pula kemungkinan kaki kita akan terluka, bahkan terbakar karenanya.

Namun, jika Allegri masih saja gemar bermain-main dengan bahaya dan tetap menyusahkan timnya sendiri. Maka barangkali sudah waktunya bagi para Juventini untuk berkata : #GetReady Allegri!

***

Oleh: Handi Aditya. Bisa disapa di @handipsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *