Chievo yang Tak Tahu Lagi Caranya Terbang

Chievo yang Tak Tahu Lagi Caranya Terbang

Chievo yang Tak Tahu Lagi Caranya Terbang

radentv.com – Akhir pekan kemarin, Serie A musim 2018/2019 memanggungkan laganya yang ke-27. Dari hasil seluruh laga tersebut, ada pihak yang merasa bahagia, biasa saja atau justru merana. Salah satu kubu yang merana dan mungkin sedang terisak adalah Chievo Verona.

Mesti diakui jika langkah Chievo amat gontai bahkan sebelum dimulainya musim ini. Gara-gara memanipulasi nilai transfer pemainnya, asosiasi sepakbola Italia (FIGC), menghukum kesebelasan berjuluk I Mussi Volanti alias Si Keledai Terbang itu dengan pengurangan 3 poin plus denda sebesar 200 ribu euro.

Ditambah dengan kualitas skuat yang pas-pasan kendati merekrut enam penggawa baru termasuk Federico Barba, Emanuele Giaccherini, Joel Obi, dan Nenad Tomovic sepanjang bursa transfer musim panas, performa Chievo secara keseluruhan benar-benar mengenaskan.

Bersama Lorenzo D’Anna di bangku pelatih, Giaccherini dan kolega menyelesaikan delapan giornata awal Serie A 2018/2019 dengan rapor merah. Mereka hanya mampu mengoleksi dua poin saja, hasil dari sepasang partai imbang melawan Empoli dan AS Roma serta keok enam kali, termasuk kalah telak dari Fiorentina dan Atalanta. Kenyataan itu membuat mereka terkapar di posisi buncit classifica.

Kurang apiknya penampilan klub yang berdiri tahun 1929 tersebut bikin D’Anna dicopot dari jabatanya per 9 Oktober 2018. Sebagai pengganti, manajemen menunjuk pelatih kawakan yang tahun lalu menyandang status pelatih tim nasional Italia, Giampiero Ventura, sehari berselang.

Pihak manajemen plus segenap pendukung setia Chievo jelas berharap kalau Ventura masih punya sentuhan magis guna mengatrol penampilan Giaccherini dan kawan-kawan agar rajin meraup hasil positif dan meninggalkan zona degradasi.

Namun nahas, harapan demi harapan itu menguap tanpa jejak sedikit pun. Empat pertandingan yang dijalani Chievo bareng Ventura berujung sama sendunya dengan periode D’Anna setelah tumbang tiga kali dan seri satu kali. Alhasil, I Mussi Volanti semakin terjerembab di dasar klasemen dan Ventura memutuskan mundur dari posisinya.

Terseok-seoknya langkah Chievo coba disudahi manajemen dengan meresmikan Domenico Di Carlo sebagai allenatore anyar. Asa kebangkitan pernah menyeruak di Centro Sportivo di Bottagisio, markas latihan I Mussi Volanti, setelah Giaccherini dan rekan-rekannya memetik lima partai perdana Di Carlo (giornata 13-17) memegang kendali.

Meski sempat ditaklukkan Sampdoria pada pekan ke-16, Chievo justru sukses mencicipi kemenangan pertamanya di musim 2018/2019 kala membasmi perlawanan Frosinone di giornata ke-17. Gol tunggal Giaccherini pada menit ke-76, tak sanggup dibalas kubu I Canarini yang juga rival langsung Chievo dalam misi sintas.

“Selamat atau tidak dari relegasi, semuanya bergantung pada usaha kami sendiri di atas lapangan. Performa cukup bagus yang kami tampilkan akhir-akhir ini jadi buktinya”, papar Di Carlo seperti dilansir football-italia.

Sayangnya, kekalahan dari Juventus di pekan berikutnya menjadi penanda robohnya harapan tim yang pernah melambungkan nama-nama seperti Amauri, Andrea Barzagli, Bernardo Corradi, Cristiano Lupatelli, Victor Obinna dan Simone Perrotta tersebut untuk menjauhi zona merah.

I Mussi Volanti kembali akrab dengan hasil-hasil negatif sehingga posisi mereka tak pernah beranjak dari dasar classifica. Teraktual, mereka baru saja dibungkam AC Milan via kedudukan 1-2 di Stadion Marc’Antonio Bentegodi dini hari kemarin (10/3) kendati sempat memberi perlawanan.

Catatan buruk itu jadi kekalahan ke-16 Chievo di Serie A 2018/2019 sekaligus yang paling banyak di antara seluruh kontestan. Tak sekadar menenggelamkan mereka di posisi buncit klasemen sementara tapi juga mengebiri kans Giaccherini dan kawan-kawan buat lolos dari degradasi karena selisih poin mereka dengan para pesaing kini semakin melebar.

Segala permasalahan yang berkelindan di Chievo selama ini membuat mereka bak keledai terbang yang kedua sayapnya patah dan tubuhnya penuh luka. Alih-alih terbang tinggi atau berlari laju, berjalan pun rasanya sulit sekali.

Seakan-akan, I Mussi Volanti sudah memasrahkan nasibnya kepada Yang Maha Kuasa. Bisa selamat, ya, alhamdulillah, gagal pun tak mengapa. Optimisme yang sempat dilambungkan Di Carlo beberapa waktu lalu pun menguap begitu saja, tak peduli bahwa musim ini masih menyisakan 11 giornata. Turun kasta ke Serie B adalah kepastian yang tinggal menunggu waktu.

***

Oleh: Budi Windekind. Bisa dihubungi di @Windekind_Budi

Leave a Reply

Your email address will not be published.