Ciao, San Siro!

Ciao, San Siro

Ciao, San Siro!

radentv.com – Semenjak dibuka pada tahun 1926 (dibangun selama kurang lebih satu tahun), Stadion Giuseppe Meazza yang terletak di kawasan San Siro, menjelma jadi sebuah ikon di kota Milan.

Dua kesebelasan ternama di kancah sepakbola Italia, Eropa maupun dunia, AC Milan dan Internazionale Milano, menjadikan stadion berkapasitas 80 ribu pasang itu sebagai rumah. Italia sendiri memberdayakan stadion ini sebagai salah satu venue di ajang Piala Dunia 1930 dan 1990 serta Piala Eropa 1980 saat berstatus tuan rumah.

Sementara asosiasi sepakbola Eropa (UEFA), menjadikan arena yang diarsiteki Alberto Cugini dan Ulisse Stacchini tersebut sebagai tempat memanggungkan pertandingan final turnamen antarklub nomor wahid di Benua Biru, Piala Champions/Liga Champions, sebanyak empat kali yaitu di tahun 1965, 1970, 2001 dan 2016.

Foto: Yulianto Nugroho

Foto: Yulianto Nugroho

Namun San Siro tak melulu lekat dengan sepakbola karena di sini juga pernah diselenggarakan partai tinju antara Duilio Loi versus Carlos Ortiz, pertandingan rugby antara Italia dan Selandia Baru serta konser musik dari musisi tenar dunia semisal Michael Jackson, Madonna, Rihanna, Muse, Bon Jovi dan One Direction.

Maka wajar bila San Siro punya tempat tersendiri di hati publik. Ada begitu banyak kisah yang pernah terukir di sana. Ada sejuta kenangan yang sulit terlupakan begitu saja. Hal ini juga yang menggelegak di dada seluruh elemen di tubuh Milan dan Inter sebagai pengguna tetap.

Walau demikian, seiring waktu San Siro juga terasa makin membebani untuk Milan dan Inter. Seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa stadion yang satu ini dimiliki oleh Pemerintah Kota Milan. Artinya, I Rossoneri dan I Nerazzurri kudu membayar sewa kepada Pemkot untuk menggunakan San Siro.

Manakala aturan Financial Fair Play (FFP) belum diterapkan UEFA, biaya sewa stadion bukanlah masalah besar untuk Milan dan Inter. Terlebih, presiden mereka di era 1980-an sampai 2010-an, Silvio Berlusconi dan Massimo Moratti, bisa menginjeksikan dana pribadinya sesuka hati ke rekening klub.

Akan tetapi semuanya berubah total sedari munculnya FFP. Apalagi di momen yang sama, baik Milan dan Inter justru tengah mengalami paceklik prestasi sehingga pendapatan mereka ikut menurun. Biaya sewa stadion pun terasa makin mencekik.

Berdasarkan rilis media-media Italia, kedua tim mesti mengucurkan fulus tidak kurang dari 25 juta euro kepada Pemkot Milan sebagai biaya sewa San Siro. Di saat pendapatan I Rossoneri dan I Nerazzurri berputar-putar di angka 200-300 juta euro saja per musimnya, nominal itu betul-betul menggerus pendapatan kedua tim.

“Meninggalkan San Siro tentu masuk ke dalam salah satu opsi sebab terus menerus menyewa stadion bikin stabilitas keuangan kami terganggu. Perlu diingat bahwa FFP menghadirkan banyak acuan baru kepada seluruh tim sepakbola yang ada supaya mampu beroleh keuntungan dari kegiatan operasionalnya dan tak lagi mengandalkan suntikan dana pemilik klub”, terang Paolo Scaroni, presiden Milan seperti dilansir Sempremilan.

Keinginan untuk membuat I Rossoneri jadi tim yang lebih kuat secara finansial sehingga makin kompetitif, bikin mereka terus berpikir buat angkat kaki dari San Siro (demi menyudahi kewajiban menyewa stadion) seraya membangun stadion baru milik sendiri.

Beberapa tahun lalu, manajemen Milan sempat memunculkan wacana untuk membangun stadion di bekas lahan Milan Expo. Namun sial, wacana itu tak pernah terwujud akibat kekurangan dana serta njelimet-nya proses birokrasi.

Setali tiga uang dengan sang rival sekota, Inter juga pernah mengajukan pembangunan stadion sekaligus pusat latihan milik sendiri yang baru di kawasan Piazza d’Armi guna mewujudkan hasrat cabut dari San Siro. Namun akhirnya, pengajuan itu menguap tanpa jejak. Alasannya? Persis dengan apa yang dialami Milan.

Membangun stadion baru memang bukan pekerjaan ringan. Klub harus betul-betul kuat secara finansial guna mewujudkan hal yang satu ini. Sebagai contoh, kocek yang mesti yang dikeluarkan Arsenal dan Tottenham Hotspur buat mendirikan stadion baru menembus angka 400 juta paun.

Bila Milan dan Inter sangat kebelet mempunyai stadion sendiri, dana dengan jumlah setara kudu disiapkan. Kurang sedikit saja, impian soal kepemilikan stadion sendiri bakal lenyap tak berbekas.

Meski begitu, tugas kedua klub tidak berhenti pada masalah pendanaan semata. Birokrasi njelimet dan sejuta dalih Pemkot Milan yang menentang cabutnya Milan serta Inter dari San Siro juga wajib disudahi.

Mentoknya keinginan duo ini buat memiliki stadion sendiri acapkali muncul akibat keengganan Pemkot untuk mempermudah prosesnya. Berulangkali, mereka justru menyebut bahwa bertahan di San Siro adalah hal terbaik bagi Milan dan Inter.

Foto: Yulianto Nugroho

Foto: Yulianto Nugroho

Di sisi lain, kebusukan Pemkot pun bisa dilihat dari situasi itu. Pasalnya, dengan Milan dan Inter tetap menyewa San Siro, Pemkot mendapatkan fulus dalam jumlah tinggi (ini di luar penggunaan stadion untuk konser musik dan aktivitas lainnya). Rasa enggan Pemkot untuk melepas kepemilikan stadion kepada duo Milan juga didasari alasan bahwa mereka memandang San Siro sebagai alat pendulang uang.

Tak berhenti sampai di situ, karena poin-poin terkait renovasi atau perawatan stadion, dibebankan mereka kepada manajemen I Rossoneri dan I Nerazzurri. Di titik ini, Pemkot Milan tak ubahnya parasit bagi neraca keuangan Milan dan Inter.

Wacana membangun sebuah stadion sendiri berkapasitas 60 ribu tempat duduk yang biayanya didanai bersama oleh Milan dan Inter, konon patungan sebesar 300 juta euro, merupakan sebuah hal yang menarik kendati segalanya masih di awang-awang.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa visi dan misi kedua klub berada di jalur yang sama. Mereka boleh saja bersaing di atas lapangan, tapi keinginan buat melaju jadi tim yang lebih sehat secara finansial dan kompetitif, menggelegak di tubuh masing-masing. Andai terwujud, publik takkan kehilangan atmosfer sengitnya laga-laga Derby Della Madonnina seperti di San Siro.

Dengan sejarah panjangnya, San Siro memang menghadirkan banyak romansa di benak Milanisti dan Interisti. Namun memiliki stadion sendiri adalah kebutuhan yang sejatinya tak boleh ditawar-tawar lagi. Simpel saja, semua berguna untuk kepentingan I Rossoneri dan I Nerazzurri sendiri di masa yang akan datang. Toh, stadion baru bisa membuat kedua tim lebih memanusiakan pendukungnya di hari pertandingan karena San Siro sudah kelewat usang.

Ada segunung tantangan, khususnya terkait pendanaan dan birokrasi dengan Pemkot, yang berdiri di hadapan Milan dan Inter terkait keinginan memiliki stadion baru yang kepemilikannya ada di tangan mereka sendiri. Namun sesulit apapun situasinya, wacana ini patut diusahakan sampai titik darah penghabisan. Demi melesat ke arah yang lebih baik sebagai tim profesional, meninggalkan San Siro adalah keharusan bagi kedua klub.

Ciao, San Siro!

***

Oleh: Budi Windekind. Bisa disapa di @Windekind_Budi