Terbang Bersama Si Pesawat Kecil

Terbang Bersama Si Pesawat Kecil

Terbang Bersama Si Pesawat Kecil

radentv.com – Edimilson Fernandes, Jordan Veretout, Giovanni Simeone, dan Gerson da Silva jadi bintang Fiorentina saat bertandang ke markas SPAL, Stadion Paolo Mazza, usai gol-gol mereka membungkam sang tuan rumah dengan skor 4-1 pada 17 Februari 2019 silam. Catatan positif itu bikin pelatih La Viola, Stefano Pioli, semringah.

Namun ironis, kebahagiaan yang meluap di dada Pioli cuma berlangsung singkat karena di laga-laga berikutnya, baik di Serie A maupun Piala Italia, Federico Chiesa dan kolega tak pernah lagi mencicipi manisnya kemenangan.

Dalam rentang 24 Februari sampai 7 April, ada delapan pertandingan yang dilakoni Fiorentina. Hasilnya, mereka imbang lima kali serta tumbang di tiga kesempatan.

Rekor tersebut memaksa La Viola tercecer dari perebutan tiket lolos ke kejuaraan antarklub Eropa, bisa terseret arus degradasi sewaktu-waktu plus memperkecil kans mereka melaju ke final Piala Italia.

Makin anjloknya performa Fiorentina berimbas pada goyahnya posisi Pioli di kursi pelatih. Gonjang-ganjing pemecatan pun santer terdengar dalam kurun dua pekan pamungkas. Sampai akhirnya, kabar jika eks allenatore Internazionale Milano dan Lazio itu mengundurkan diri dari jabatannya mengemuka pada Selasa (9/4) kemarin.

Walau pengunduran diri Pioli menimbulkan friksi tersendiri dengan pihak manajemen, tapi Fiorentina tak ingin berlama-lama membiarkan bangku pelatih kosong.

Dilansir melalui laman resmi klub, La Viola memastikan perekrutan Vincenzo Montella sebagai allenatore anyar per 10 April. Pria berumur 44 tahun tersebut diganjar kontrak yang berakhir pada Juni 2020.

“Keluarga Della Valle (pemilik klub) dan Pantaleo Corvino (Direktur Olahraga) berusaha keras untuk meyakinkanku. Hal itulah yang membulatkan keputusanku agar kembali ke Firenze”, terang L’Aeroplanino (bermakna Pesawat Kecil), julukan Montella, seperti dilansir football-italia.

Bagi Montella, Fiorentina memang bukan kesebelasan yang asing sebab periode 2012 hingga 2015 silam dihabiskannya sebagai peracik strategi La Viola. Momen pertama karier kepelatihannya di Stadion Artemio Franchi itu sendiri tergolong ciamik.

Dalam tiga musim berurutan, Fiorentina yang pada momen tersebut dihuni nama-nama semisal Alberto Aquilani, Juan Cuadrado, Giuseppe Rossi, dan Borja Valero, senantiasa finis di peringkat empat klasemen akhir Serie A. Tak berhenti sampai di situ karena La Viola juga mencicipi final Piala Italia 2013/2014 (tumbang dari Napoli) serta semifinal Liga Europa 2014/2015 (digilas Sevilla).

Berdasarkan statistik, rasio kemenangan Fiorentina pada seluruh ajang di bawah arahan Montella saat itu menyentuh angka 52,32%. Sepanjang karier kepelatihan lelaki kelahiran Pomigliano d’Arco, catatan tersebut merupakan yang terbaik.

Walau menebus empat besar jadi misi yang mustahil untuk musim ini, Montella yang dibekali amunisi sekelas Cristiano Biraghi, Marco Benassi, Chiesa, dan German Pezzella, diharapkan pihak manajemen sanggup membangkitkan tim dari keterpurukan.

Lolos dari jerat degradasi sekaligus menjejak final Piala Italia barangkali jadi target paling realistis yang bisa dibebankan kepada Montella. Secara matematis, La Viola cuma butuh sekurangnya sepuluh poin lagi guna bertahan di Serie A.

Sementara di semifinal Piala Italia melawan Atalanta, kemenangan tipis 1-0 di markas lawan (di kandang sendiri Fiorentina ditahan imbang Atalanta via skor 3-3) pun sudah cukup untuk Chiesa dan kawan-kawan melangkahkan kaki ke final.

Kembali terbang guna menyelesaikan musim 2018/2019 dengan pencapaian yang lebih baik adalah satu-satunya keinginan Fiorentina. Hal itulah yang coba mereka wujudkan bersama Si Pesawat Kecil usai Pioli cabut.

Mampukah Montella membawa La Viola terbang dengan paripurna?

****

Oleh: Budi Windekind (@Windekind_Budi)