Andrea Barzagli: Ksatria yang Tahu Diri

Andrea Barzagli: Ksatria yang Tahu Diri

Andrea Barzagli: Ksatria yang Tahu Diri

radentv.com – Pertandingan SPAL menjamu Juventus pada pekan ke-32 lanjutan Serie A 2018/2019 berakhir mengejutkan. Pasalnya, tim asuhan Massimiliano Allegri ini harus tunduk pada kubu besutan Leonardo Semplici dengan skor akhir 2-1. Padahal, La Vecchia Signora sempat memimpin pertandingan lewat gol yang diukir Moise Kean.

Berpeluang mengunci gelar Scudetto bila menang, di pertandingan itu sendiri Juventus mengistirahatkan 70% pemain utamanya sebagai persiapan jelang leg kedua babak perempatfinal Liga Champions kontra Ajax Amsterdam. Praktis hanya Andrea Barzagli, Joao Cancelo dan Paulo Dybala saja penggawa inti yang merumput di Stadion Paolo Mazza.

Tanpa Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini yang biasa menemaninya di sektor belakang, Barzagli rupanya cukup kerepotan oleh tekanan para pemain depan SPAL. Terlebih, Sergio Floccari dan kawan-kawan tampil amat spartan guna menggeber kemenangan untuk menjauhi zona degradasi.

Di titik ini, Juventini seolah disuguhkan pemandangan tak biasa. Barzagli yang semenjak datang ke Turin langsung jadi penggawa utama dan pilar di lini pertahanan, kini mulai ngos-ngosan buat sekadar menutup ruang di depan gawang La Vecchia Signora.

Kenyataan itu juga yang membuat menit bermain Barzagli berkurang drastis pada musim 2018/2019. Berdasarkan statistik yang dihimpun via Transfermarkt, sejauh ini Barzagli cuma turun di 9 pertandingan pada seluruh kompetisi. Padahal di musim 2016/2017 serta 2017/2018, pria kelahiran Fiesole itu berlaga di 39 dan 38 partai.

Beruntung bagi Juventus, kegagalan di markas SPAL sanggup mereka tuntaskan manakala Fiorentina bertamu ke Stadion Allianz pada giornata ke-33 kemarin (20/4). Laga yang berkesudahan 2-1 tersebut bikin seluruh elemen di tubuh La Vecchia Signora berpesta pora.

Layaknya beberapa pemain Italia lainnya semisal Antonio Di Natale, Dario Hubner dan Luca Toni, Barzagli tergolong sosok late bloomer. Namanya baru menyeruak ke permukaan saat membela Palermo dalam usia 23 tahun.

Performa apiknya bareng I Rosanero bikin tim asal Jerman, Wolfsburg, kepincut. Tak main-main, nominal sebesar 12,95 juta euro digelontorkan klub berkostum hijau itu guna memboyong Barzagli ke Stadion Volkswagen Arena.

Musim pertama di Jerman, Barzagli berkontribusi besar dalam perjalanan Wolfsburg merengkuh titel Bundesliga 2008/2009. Oleh Felix Magath, pelatih Die Wolfe, Barzagli dijadikan benteng nomor satu.

Akan tetapi kisah manisnya di Negeri Bavaria tak berlangsung lama sebab di musim-musim berikutnya, Barzagli justru lebih banyak menghuni bangku cadangan.

Hanya beberapa bulan sebelum kontraknya di Wolfsburg kedaluwarsa, Juventus yang tengah membangun skuat kokoh pun membajaknya. Siapa sangka, La Vecchia Signora menjadi jodoh Barzagli buat mengembalikan kariernya ke trek yang benar.

Seperti yang telah saya sebutkan di bagian awal artikel, Barzagli bertransformasi jadi bek tangguh selama mengenakan baju hitam-putih Juventus. Bareng Bonucci dan Chiellini, Barzagli membentuk trio tangguh di sektor belakang sampai beroleh julukan BBC (akronim dari nama ketiganya).

Walau dipuja, tapi atensi yang diberikan publik kepada Barzagli tak sementereng yang didapat Bonucci maupun Chiellini. Namun Barzagli enggan mempermasalahkannya dan lebih suka membuktikan secara langsung di atas lapangan bahwa dirinya adalah pemain hebat dan sanggup mengawal lini pertahanan La Vecchia Signora, setidaknya sampai pengujung musim 2018/2019.

Seperti dilansir Yahoo Sports, Barzagli yang di bulan Mei mendatang merayakan ulang tahunnya yang ke-38, sudah menyatakan kalau musim ini adalah tahun terakhirnya berstatus sebagai pesepakbola profesional seiring kontraknya yang usai bersama Juventus.

“Ini adalah musim terakhirku merumput. Keputusanku untuk pensiun sudah bulat”, tutur Barzagli seperti yang dirilis calciomercato.

Walau gagal mengantar Juventus menjuarai Liga Champions musim ini, setidaknya Barzagli masih dapat mengecup trofi Scudetto sekaligus menggenapi pencapaian La Vecchia Signora sebagai juara Liga Italia delapan musim berurutan.

La Roccia alias Si Batu Karang yang merupakan julukan Barzagli, tahu betul jika tubuh dan kakinya tak sekokoh dahulu. Memilih untuk menepi dari medan tempur seraya mewariskan tempatnya kepada figur yang lebih muda dan segar macam Daniele Rugani adalah keputusan terbaik untuknya.

Walau selama ini berdiri laksana bayang-bayang Bonucci dan Chiellini karena jarang disorot, Juventini serta penggemar sepakbola di penjuru Italia bakal mengenang Barzagli sebagai salah satu ksatria sekaligus bek terhebat yang pernah mereka miliki sepanjang sejarah.

Grazie, La Roccia.

***

Oleh: Meido Anggriawan. Bisa disapa di @dsmap_