Pesona Atalanta

Pesona Atalanta

Pesona Atalanta

radentv.com – Titel juara Liga Italia 2018/2019 dipastikan jadi milik Juventus akhir pekan kemarin (21/4). Kemenangan 2-1 dari Fiorentina sudah cukup buat melanggengkan kuasa I Bianconeri di tanah Italia selama delapan musim beruntun.

Walau demikian, Serie A tetap menjanjikan persaingan seru hingga kompetisi berakhir. Utamanya tentang perebutan tiket lolos ke ajang Liga Champions musim depan via mengakhiri musim di empat besar.

Napoli, Internazionale Milano, AC Milan, Atalanta, AS Roma, Torino, dan Lazio adalah kubu yang masih berpeluang menggapainya di lima pekan tersisa. Pasalnya koleksi nilai di antara tim-tim penghuni peringkat dua sampai delapan tersebut hanya berselisih tipis.

Dari sekian kubu di atas, nama Atalanta tentu yang paling menarik perhatian. Secara tradisional, mereka bukanlah kekuatan utama di Negeri Spaghetti. La Dea justru lebih kondang sebagai Regina delle Provinciali alias ratu dari klub-klub semenjana lantaran acap tampil di Serie A (58 musim), hanya mentas 28 musim di Serie B dan cuma sekali bertempur di Serie C.

Lebih jauh, Atalanta juga terkenal sebagai kawah pabrik pemain-pemain muda potensial yang kemudian ditarik oleh klub-klub mapan via nominal bombastis. Andrea Conti, Bryan Cristante, Roberto Gagliardini, Franck Kessie, Riccardo Montolivo, Giampaolo Pazzini, Alessio Tacchinardi, Roberto Donadoni, Gaetano Scirea, dan Angelo Domenghini adalah contoh nyatanya.

Namun di bawah asuhan Gian Piero Gasperini, ada hal berbeda yang sanggup disuguhkan La Dea. Alih-alih bersaing dengan tim-tim provinsial lainnya guna lepas dari jerat degradasi, Atalanta malah konsisten bertarung di zona atas sembari mengintip peluang melaju ke kejuaraan antarklub Eropa.

Pada musim perdananya membesut Alejandro ‘Papu’ Gomez dan kawan-kawan di 2016/2017 lalu, Gasperini berhasil mengantar mereka finis di posisi empat klasemen akhir. Torehan ini sendiri merupakan finis terbaik La Dea sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Serie A.

Capaian apik tersebut rupanya sanggup direplikasi di musim 2017/2018 kemarin. Kendati gagal nangkring di empat besar, Gasperini tetap membawa klub yang bermarkas di Stadion Atleti Azzurri d’Italia itu bertengger di posisi tujuh klasemen akhir.

Padahal selama dua musim tersebut, Gasperini dihantam problem serupa dengan pelatih-pelatih Atalanta terdahulu yakni kehilangan pilar-pilar inti dari musim sebelumnya gara-gara dicomot kesebelasan lain.

Pesona yang ditebarkan Gasperini bareng Atalanta belum berhenti sampai di situ. Hal ini terjadi sebab di musim 2018/2019 kali ini, Gomez dan kolega kembali tampil mengagumkan. Hingga giornata ke-33, La Dea duduk secara kokoh dan nyaman di peringkat lima classifica bermodal 56 angka.

Populer sebagai penganut sepakbola menyerang dengan formasi baku 3-4-3, Gasperini menyulap Atalanta jadi sebuah unit yang trengginas di depan gawang lawan serta cair dan luwes di sektor tengah. Tak peduli bahwa area pertahanan mereka kerap bocor.

Bukan hanya menginisiasi permainan dari lini pertama, dua dari tiga bek tengah dalam formasi 3-4-3 kesukaan Gasperini memang diinstruksikan untuk terlibat lebih banyak dalam permainan. Di sejumlah situasi, mereka bahkan dituntut buat meninggalkan areanya guna ikut membantu serangan. Maka jangan kaget saat menyaksikan Gianluca Mancini dan Rafael Toloi sering berdiri di area tengah atau bahkan merangsek sampai kotak penalti lawan.

Bergeser ke pos wing back yang dihuni Timothy Castagne dan Hans Hateboer, Gasperini senantiasa meminta kedua pemain ini untuk bergerak agresif di area sisi karena alur serangan Atalanta memang kerap dilakukan via sayap. Risikonya, dengan kedua wing back rajin naik membantu serangan, La Dea juga rentan dihajar serangan balik kilat akibat banyaknya ruang kosong di wilayah pertahanan.

Sementara duet gelandang tengah, Marten De Roon dan Remo Freuler, amat piawai mengatur ritme permainan. Dalam fase bertahan dan menyerang, keduanya punya peran sentral, termasuk melakukan permutasi posisi dengan rekan-rekannya, sehingga lini tengah Atalanta tetap bisa mengendalikan permainan.

Terakhir sekaligus yang jadi kunci ketajaman Atalanta adalah trio Gomez, Josip Ilicic, dan Duvan Zapata yang mengokupansi sektor depan. Ketiganya adalah pemain-pemain yang lihai dalam duel satu lawan satu plus rajin bertukar posisi guna membuka ruang. Pergerakan ketiganya, baik dengan bola di kakinya ataupun tidak, mampu memberi kengerian tersendiri bagi bek-bek musuh.

Membiarkan Ilicic, Gomez, dan Zapata bertindak seenaknya di sepertiga akhir sama artinya dengan membuka pintu lebar-lebar kepada Atalanta buat mencetak gol.

Apiknya penampilan Atalanta di Serie A juga mereka duplikasi pada ajang Piala Italia. Sampai tulisan ini dibuat, Gomez dan kawan-kawan dapat melaju ke laga puncak apabila mereka sukses mengangkangi Fiorentina dini hari besok (26/4) di leg kedua babak semifinal usai bermain imbang 3-3 di pertemuan pertama.

“Liga Champions tentu bukan buruan kami. Namun sekarang, kami punya peluang untuk melaju ke sana. Maka memperjuangkannya adalah keharusan. Selain itu, kami juga sudah menapak semifinal Piala Italia dan lolos ke final merupakan kebanggaan tersendiri untuk kota Bergamo”, terang Gasperini seperti dikutip dari football-italia.

Kepercayaan lebih yang Antonio Percassi, presiden Atalanta, kepada Gasperini memang tepat. Di tangan lelaki kelahiran Grugliasco, 61 tahun silam tersebut, Atalanta bertransformasi menjadi kesebelasan yang permainannya sedap dipandang dan tajam.

Finis di empat besar seraya lolos ke Liga Champions dan menjuarai Piala Italia, mungkin bak dongeng untuk klub sekelas Atalanta. Namun pesona yang mereka perlihatkan sepanjang musim ini berpotensi melanggengkan dongeng itu jadi sebuah kenyataan yang manis.

#ForzaLaDea

***

Oleh: Budi Windekind. Bisa disapa di @Windekind_Budi