Menyelamatkan Kereta AC Milan

Menyelamatkan Kereta AC Milan

Menyelamatkan Kereta AC Milan

radentv.com – “Lazio pantas lolos ke final Piala Italia karena bermain lebih baik. Performa kami sungguh memalukan kali ini”.

Seperti itulah kalimat yang meluncur dari bibir Gennaro Gattuso, pelatih AC Milan, kala diwawancarai wartawan Rai Sport usai timnya ditumbangkan Lazio dengan skor tipis 0-1 di leg kedua semifinal Piala Italia.

Baik Gattuso, para pemain, petinggi klub dan seluruh Milanisti di penjuru Bumi, tentu sangat kecewa dengan kegagalan tersebut. Padahal ajang Piala Italia bisa menjadi arena di mana Milan membawa pulang trofi juara sekaligus memperbaiki nama besar mereka.

Tersingkir dari kejuaraan yang satu itu membuat fokus dan keseriusan Milan dalam berkompetisi wajib dibelokkan kembali ke Serie A. Koleksi 56 angka yang mereka miliki sekarang belumlah cukup untuk mengamankan posisi di empat besar guna lolos ke Liga Champions musim depan.

Apalagi ambisi Alessio Romagnoli dan kolega beserta seluruh elemen yang ada di tubuh Milan untuk kembali ke ajang antarklub Eropa nomor wahid itu amat menggelegak. Ya, absensi selama lima musim dari Liga Champions kudu disudahi.

Ibarat sandang, pangan, dan papan, Liga Champions adalah kebutuhan primer bagi I Rossoneri. Gagal tampil di ajang tersebut untuk enam musim berturut-turut, berpotensi melukai Milan di seluruh aspek, khususnya dari sisi finansial karena ajang lain seperti Liga Europa, tak menyediakan pundi-pundi uang sebanyak Liga Champions.

Terlepas dari sejarah gemilang yang dimiliki I Rossoneri, Milanisti tentu sadar bila klub kesayangannya tak sekuat dahulu dari berbagai sisi. Segala keterbatasan yang ada membuat prestasi tim makin redup. Lebih jauh, cekaknya kondisi finansial memaksa mereka hanya mampu mendatangkan pemain baru dengan kualitas biasa-biasa saja.

Rumitnya situasi yang berkelindan di tubuh Milan, sayangnya tidak melunturkan tekanan kepada Gattuso. Bahkan, tekanan itu semakin membesar usai terjengkang dari Piala Italia. Target finis di empat besar harus diwujudkan meski praktiknya tak semudah teori di atas kertas.

Nahasnya lagi, performa Milan di enam giornata pamungkas Serie A sangat jeblok. Mereka cuma menang sekali (versus Lazio), imbang dua kali (kontra Parma dan Udinese) dan keok tiga kali (dari Internazionale Milano, Sampdoria, dan Juventus).

Hal ini bermakna I Rossoneri hanya mengepak enam poin dari lima belas angka maksimal yang bisa dipetik. Bagi tim yang memasang target finis di empat besar, torehan itu sungguh minor dan minimalis.

Wajar kalau belakangan ini, hasrat Milanisti untuk melihat klub kesayangan mereka dilatih oleh figur yang lebih kapabel dibanding Gattuso semakin menggelora. Media-media kenamaan Italia pun semakin ramai melempar gosip jika manajemen Milan sedang pedekate dengan Antonio Conte, Rudi Garcia sampai Maurizio Sarri.

Kendati begitu, Milan terbilang mujur karena di saat mereka tampil angin-anginan dan kepayahan memetik angka, para pesaing seperti Atalanta, AS Roma dan Lazio acap gagal memaksimalkan segala peluang yang mereka punyai untuk menyalip Romagnoli dan kolega di papan klasemen.

Namun menggantungkan nasib pada keberuntungan, tak bisa dilakukan Milan terus menerus. Suka tidak suka, mereka wajib memperbaiki kinerjanya agar target yang dicanangkan terpenuhi. Tugas inilah yang kudu ditunaikan Gattuso beserta anak asuhnya dengan sebaik mungkin.

Lawan yang mesti dihadapi Milan di lima giornata terakhir adalah Torino, Bologna, Fiorentina, Frosinone, dan SPAL. Secara keseluruhan, kelas Milan memang masih di atas kuintet tersebut. Namun misi pribadi yang diusung masing-masing kubu berpotensi membuyarkan keinginan I Rossoneri menoreh hasil maksimal.

LINK STREAMING TORINO VS AC MILAN DI SINI!

Torino masih menyimpan kesempatan untuk menembus empat atau enam besar klasemen guna lolos ke kompetisi Eropa. Sementara Bologna, Frosinone dan SPAL tengah berlomba-lomba mengoleksi poin demi menjauhi zona merah. Praktis, cuma Fiorentina yang tak memiliki target apapun karena peluangnya lolos ke kejuaraan antarklub Benua Biru sudah tertutup dan kemungkinan kecil terseret arus relegasi.

Berkaca dari hal tersebut, lima pertandingan tersisa Milan pasti takkan berjalan mudah. Di titik inilah, menepikan semua keterbatasan yang dimiliki, kemampuan maksimal Gattuso dalam meramu strategi amat dibutuhkan.

Bak seorang masinis yang mengemudikan kereta api, Gattuso harus mengerahkan segalanya. Dengan begitu, kereta Milan akan terselamatkan sehingga tak keluar rel (baca: empat besar). Walau, keberhasilan itu belum tentu mengamankan posisinya sebagai pelatih I Rossoneri buat musim mendatang.

Sanggup, Gattuso?

***

Oleh: Budi Windekind. Bisa disapa di @Windekind_Budi