Scudetto Kedelapan dan Harga Mati Titel Liga Champions

Scudetto Kedelapan dan Harga Mati Titel Liga Champions

Scudetto Kedelapan dan Harga Mati Titel Liga Champions

radentv.com – Mengoleksi 40 angka dari 14 pertandingan Serie A 2018/2019 membuat Juventus melenggang sendirian di puncak klasemen, jauh meninggalkan para rival. Dengan catatan gemilang itu plus rekor belum terkalahkan di Serie A musim ini, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan harus meladeni tantangan Internazionale Milano dini hari tadi (8/12) di Stadion Allianz.

Dengan kekuatan yang lebih seimbang, bukan perkara sulit bagi I Bianconeri untuk menekuk I Nerazzurri. Benar saja, sebiji gol dari kepala Mario Mandzukic pada menit ke-66 sudah cukup untuk menumpas perlawanan kubu tamu.

Sekarang, tim asuhan Massimiliano Allegri jadi semakin santai karena memimpin klasemen sementara via torehan 43 angka alias unggul 11 poin dari klub yang menghuni posisi kedua, Napoli. Dengan catatan, I Partenopei baru tanding sebanyak 14 kali).

Andai Marek Hamsik serta kolega memenangi pertandingan kontra Frosinone di giornata ke-15 pada Sabtu malam nanti (8/12), jarak dengan Juventus masih terbentang sebesar 8 poin. Sederhananya, Napoli baru dapat melewati Juventus apabila sang rival tumbang tiga kali (suatu hal yang agak mustahil kalau berkaca pada performa I Bianconeri sepanjang musim ini).

Ditengok dari kacamata apapun, butuh usaha ekstra keras dan mukjizat guna mendekati atau bahkan menyalip Juventus di classifica. Tak heran bila sejumlah pengamat Serie A menyebut kalau titel Scudetto musim ini telah ada di genggaman I Bianconeri.

Jika Anda penggemar balap MotoGP, tentu paham betul dengan cara balap dua jagoan Spanyol, Jorge Lorenzo dan Marc Marquez. Keduanya terkenal sebagai pembalap yang langsung tancap gas di awal lomba guna memimpin balap, memperlebar jarak dari pesaing dan menang.

Apa yang ditampilkan I Bianconeri di Serie A 2018/2019 kali ini pun tak ubahnya aksi Lorenzo dan Marquez di atas aspal sirkuit. Praktis, cuma sekali Juventus kehilangan angka penuh yaitu saat diimbangi Genoa pada giornata ke-9.

Masifnya keunggulan poin yang dimiliki Juventus tentu sangat berguna untuk kampanye mereka. Bukan semata-mata demi menggapai Scudetto kedelapan beruntun sekaligus menahbiskan dominasi tak tahu adat mereka di Negeri Pizza tapi juga demi impian di kejuaraan lain, Liga Champions.

Saat mendatangkan Ronaldo dari Real Madrid di bursa transfer musim panas kemarin lewat harga fantastis, semua pihak mengerti kalau fokus utama I Bianconeri adalah mewujudkan mimpi sepanjang dua dekade yakni memenangi trofi Si Kuping Besar untuk ketiga kali dalam sejarah klub.

Menjadi spesialis final dan gagal (lima kali dalam rentang waktu yang sama) jelas bikin senewen. Padahal, skuat yang dipunyai I Bianconeri dalam momen-momen itu tergolong pilih tanding. Maka, menyudahi rekor buruk itu adalah kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar lagi, bahkan oleh Allegri sendiri.

Keberhasilan Juventus melenggang di Serie A semestinya bisa mereka manfaatkan pula untuk mengatur fokus dan tenaga pada kompetisi yang begitu diinginkan gelarnya.

“Trofi Liga Champions adalah obsesi kami. Target nomor satu Juventus”, papar David Trezeguet, mantan penyerang I Bianconeri yang kini berstatus sebagai duta besar klub saat diwawancarai oleh L’Equipe.

Ucapan Trezeguet tersebut sudah barang tentu diamini oleh petinggi klub, Allegri maupun seluruh penggawa Juventus. Alih-alih Scudetto kedelapan berturut-turut atau gelar Piala Italia keempatbelas sepanjang sejarah, supremasi tertinggi antarklub Eropa adalah dambaan utama mereka yang musim ini wajib diwujudkan bagaimanapun sulitnya.

Melaju secepat mungkin di Serie A guna mengunci titel lebih dini adalah satu dari sekian cara yang ditempuh Juventus agar mereka dapat membagi fokus dan tenaga sehingga mimpi dua dekade di Liga Champions berakhir dengan paripurna.

***

Oleh: Budi Windekind. Bisa disapa di @Budi_Windekind

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *