Tertarik Selamatkan Milan, Poch?

radentv.com – Kamis, 21 November 2019, secara mengejutkan klub asal Kota London Inggris, Tottenham Hotspurs, resmi mengumumkan pemutusan kerja sama dengan sang pelatih, Mauricio Pochettino.

Kabar ini tidak hanya mengagetkan bagi para fans The Lily White, melainkan juga bagi banyak penggemar sepakbola di seluruh dunia. Betapa tidak? Terlalu banyak cerita manis yang telah diberikan Pochettino bagi penggemar Tottenham. Sekalipun belum dalam bentuk tropi. Namun memecatnya saat situasi tim yang “belum genting-genting amat”? Ayolah, menejemen Tottenham… Sesekali kalian harus nonton pertandingan MU!

Kita tahu, Poch, sapaan akrab Pochettino, sudah sangat berjasa “menaik-kelaskan” klub, yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang dari dua klub asal Kota London lain yang lebih populer, Arsenal dan Chelsea. Terlebih, ia pun berhasil melakukannya di tengah-tengah masa transisi klub, yang sedang melakukan penghematan besar-besaran, guna menyelesaikan pembangunan stadion baru. Namun sepertinya, pihak klub telah memiliki rencana lain.

Benar saja, tak sampai sehari, pihak klub pun rupanya sudah langsung mendapatkan pengganti sepadan untuk menggantikan Poch, yakni sang kontroversial, spesialis nomor 1, Jose Mourinho.

Saya tak akan mengajak kita semua membanding-bandingkan antara Poch & Mou. Terlalu kontras. Seperti membandingkan ahli perbankan konvensional dan syariah. Sama-sama ahli, tapi tidak di platform yang sama.

Saya justru lebih tertarik dengan masa depan Poch, yang di akhir musim lalu, sempat disebut-sebut akan menjadi salah satu pengganti Max Allegri di Juventus.

Spekulasi mengenai masa depan Poch mulai liar beberapa hari ini, ia banyak disebut-sebut akan menggantikan sang fenomenal, Ole Gunnar Solksjaer di Manchester United. Namun tak sedikit yang memprediksi, ia akan mengambil alih kursi kepelatihan Arsenal dari tangan Unai Emery.

Kedua klub ini, MU dan Arsenal, sepintas memang terlihat begitu sesuai, guna menjadi labuhan baru berikutnya bagi Poch.

MU, misalnya. Mereka punya ambisi serta sumber daya tak terbatas, yang bisa Poch manfaatkan guna membangun tim yang diidam-idamkannya. Pelatih mana coba yang tak ingin foya-foya?

Sementara Arsenal, saya melihat tidak ada klub lain di dataran Inggris, yang memiliki filosofi bermain, gairah dan semangat, yang sesuai dengan apa yang selama ini Poch terapkan pada setiap timnya. Kecuali Arsenal. Filosofi ini konon tengah dirusak perlahan oleh kekonyolan-kekonyolan Emery.

Namun lagi-lagi, keduanya masih sebatas spekulasi. Menejemen Arsenal dengan segala pertimbangannya, tampak masih enggan melepas Emery.

Sementara itu, mayoritas pencinta sepakbola di seluruh alam semesta, masih sangat diliputi perasaan tak rela, jika MU harus berpisah dengan “si jenius” Ole. Saya salah satunya.

Namun jika Poch mau menantang nyalinya untuk yang kali kedua, ia bisa menghabiskan waktu, mengambil cuti sekira beberapa pekan ke depan, berlibur ke kampung halaman, ternak lele atau sekadar menyapa mantan. Kemudian saat pikirannya sudah kembali jernih, ia bisa sesekali muncul ke media dan berkata, saya tertarik berkarir di Italia!

Mengapa ke Italia? Sebab di sanalah jalan menuju pelatih hebat, bisa ia lalui. Sehebat apapun Pep dan Klopp, mereka belum ada apa-apanya dibanding Mou, karena faktanya, Mou sudah menaklukkan liga yang cukup memusingkan itu. Dan Poch, ia bisa mengikuti jejak Mou, andai ia mau mencicipi langsung atmosfer Serie A.

Tetapi bukan ke Juve, bukan juga ke Inter ataupun Napoli. Ketiganya terlalu mudah bagi tangan dingin Poch! Poch harus mencoba peruntungan dan kesaktian yang dimilikinya di AC Milan. Tempat segala bentuk tantangan tersulit dalam melatih klub sepakbola, bisa ia dapatkan.

Milan punya skuad bagus, mewah, itu tak bisa saya bantah. Namun coba lihat posisi mereka di klasemen sementara saat ini. Tercecer di tangga ke-14, tertinggal dari klub remah-remahan rengginang, Sassuolo.

Saya adalah orang yang tidak pernah meragukan kapasitas skuad yang dimiliki Milan. Piatek, contohnya. Ia adalah striker muda paling haus gol, yang dimiliki Serie A saat ini. Tapi lihat bagaimana performanya sekarang? Bahkan untuk menemukan gawang pun, ia seolah membutuhkan sedikitnya dua alat, kompas dan Google Maps.

Lalu Ishmael Bennacer, siapa yang meragukan prestasinya di Piala Afrika lalu? Bukan sebuah kebetulan ia digadang-gadang oleh banyak pengamat, sebagai pemain muda yang berbakat. Ia bahkan diganjar sebagai yang terbaik di ajang itu. Lalu apa kabarnya saat di Milan? Tak terlalu cemerlang. Alih-alih menjadi bintang panggung, ia justru lebih sering demam panggung.

Di luar nama-nama tadi juga masih ada nama Paqueta, Gigi Donarumma, Alessio Romagnoli serta banyak lagi. Nama-nama yang sebetulnya punya segudang potensi mengembalikan kejayaan Milan, namun entah mengapa, seolah bakat mereka terbatasi oleh peran yang keliru diberikan sang pelatih.

Milan sendiri saat ini tengah dalam masa transisi memulihkan kondisi finansialnya. Situasi yang kurang lebih mirip dengan apa yang pernah dialami Poch dulu, ketika masih menangani Tottenham. Tentu budget kecil bukan lagi soal, sebab di Spurs, ia pernah sama sekali tidak diberi budget untuk berbelanja.

Saya meyakini, Poch yang muda dan visioner, akan sangat mampu memanfaatkan skuad yang ada di Milan saat ini. Fleksibilitas taktikalnya pun bisa sangat berguna dalam memilih susunan pemain.

Bukan tak mungkin, Suso akan disulapnya menjadi Son Heung Min baru, yang bisa menusuk dari sayap hingga ke depan, bukan seperti Suso yang sekarang kita lihat, berkeliaran di pinggir, lalu merangsek ke area tengah, yang sudah penuh sesak dengan posisi kawan maupun lawan.

Sementara Paqueta, ia bisa diberi peran yang sama seperti Christian Eriksen, sebagai gelandang double pivot, yang memungkinkan pergerakannya menjadi lebih dinamis. Sehingga Piatek, bisa lebih leluasa bergerak, dengan ruang yang dibukakan sendiri oleh rekan-rekannya. Bukan striker yang dipaksa menunggu sendirian di depan, seperti yang diperagakan Pioli saat ini.

Sekali lagi, skuad Milan sama sekali tidak jelek. Cukup mewah, bahkan. Namun pembagian peran yang tidak sesuai dengan kemampuan pemain, sudah lebih dari cukup menjadi alasan tim ini, kesulitan menemukan bentuk permainan terbaiknya.

Namun tantangan terbesar Poch jika pada akhirnya jadi membesut Milan, bukanlah dari skuad yang dimilikinya. Melainkan dari para fans Milan sendiri, yang percaya bahwa kesuksesan bisa didapat semudah Berlusconi menjentikkan jari.

Poch harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan para fans, sebagaimana yang selalu berhasil ia lakukan dengan para fans Tottenham dulu. Hal inilah yang sebetulnya tak mampu dilakukan oleh para pelatih Milan sebelumnya, memberi pengertian pada fans bahwa klub tengah berjuang, mari kita lakukan bersama!

Sudah saatnya Milan berhenti berjudi memilih juru taktik. Jika tahu Luis Milla bagus, segera rekrut! Bukan malah menjajal-jajal Simon, Riedl apalagi Henk Wullems! Akibatnya? Bukannya untung malah jadi korban rundung.

Bukankah sudah tak terhitung dana belanja yang sia-sia, akibat mengambil nama-nama juru taktik, yang bahkan belum memiliki pengalaman melatih sama sekali?

Milan perlu memutus rantai kebodohan itu. Sebelum semuanya menjadi sangat terlambat. Dan mengamankan tanda tangan Poch, akan menjadi salah satu langkah terbaik, yang bisa Milan lakukan sekarang, tanpa harus menuai penyesalan lagi di masa mendatang.

***

Oleh : Handi Aditya. Penulis biasa yang bisa disapa di akun @juve_gl