Olengnya Kapal Internazionale Milano

Olengnya Kapal Internazionale Milano

Olengnya Kapal Internazionale Milano

radentv.com – Mimpi buruk yang selalu menghantui Internazionale Milano sepanjang bulan Januari (seringkali merembet hingga Februari) dalam kurun beberapa musim pamungkas kembali menyapa dengan seramnya di pertengahan musim 2018/2019 kali ini.

Merumput sebanyak lima kali (termasuk satu laga pada 4 Februari kemarin), Il Biscione hanya memetik kemenangan di satu laga sementara sisanya berujung dengan dua kali seri plus sepasang hasil minor.
Sialnya lagi, catatan buruk itu membuat Mauro Icardi dan kawan-kawan tersingkir dari ajang Piala Italia serta makin tertinggal dari Napoli tetapi terus didekati AC Milan yang nangkring di posisi dua serta empat classifica Serie A.

Gara-gara rapor jeblok tersebut, Interisti mulai bersuara nyaring dengan meminta kubu manajemen untuk memecat sang pelatih, Luciano Spalletti. Dalam hemat mereka, pria berkepala plontos itu sudah kehabisan ide buat menyusun strategi sehingga tak lagi kuasa menaklukkan lawan-lawannya.

Tragisnya lagi, media-media Italia juga terus menyebut bahwa pihak manajemen telah memberi ultimatum kepada eks pelatih AS Roma dan Zenit St. Petersburg itu. Tak sanggup menekuk Parma akhir pekan mendatang (10/2), Spalletti akan kehilangan pekerjaannya kendati beberapa waktu lalu sepakat untuk memperpanjang kontrak sampai Juli 2021.

Namun segala berita miring itu disanggah Chief Executive Officer (CEO) Inter, Giuseppe Marotta. Lelaki berkacamata tersebut mengatakan bahwa saat ini, posisi Spalletti sebagai pelatih ada di zona aman.

“Kami memang berdiskusi selepas kekalahan versus Bologna, tapi itu hal yang biasa kami lakukan setelah pertandingan. Kami sadar bahwa Inter tengah berada di periode sulit sehingga fans merasa sangat kecewa. Namun posisi Spalletti masih aman”, ungkap Marotta seperti dilansir Sky Sports Italia.

Walau begitu, ucapan Marotta tak bisa ditelan mentah-mentah karena sanggahan macam itu juga persoalan yang klise di kancah sepakbola. Apalagi kalau performa sebuah kesebelasan sedang merosot tajam. Diakui atau tidak, posisi Spalletti pasti goyah.

Lantas, apa yang salah dari Il Biscione sehingga mereka, seperti musim-musim sebelumnya, kembali terpuruk pasca libur musim dingin?

Asumsi Interisti yang menyebut Spalletti sebagai kambing hitam tentu tak bisa disalahkan begitu saja. Sebab bagaimanapun juga, pria kelahiran Certaldo itu punya andil tersendiri, khususnya dari sisi teknis. Apa yang disuguhkan Icardi dan kawan-kawan di atas lapangan bertumpu pada ide dan strategi yang Spalletti siapkan.
Namun melihat secuil highlight dari pertandingan kontra Bologna, keterpurukan Inter tak seratus persen diakibatkan kesalahan Spalletti dalam menyusun taktik.

I Rossoblu yang baru saja mengangkat Sinisa Mihajlovic sebagai pelatih anyar menggantikan Filippo Inzaghi, tidak bermain secara brilian. Dalam momen-momen yang tampak dari video di atas, game plan yang Spalletti terapkan berjalan cukup baik.

Hal ini bisa kita lihat dari kans mencetak gol yang didapat Icardi (pada detik 0:05) gara-gara kesalahan back pass pemain belakang lawan. Momen itu takkan bisa diperoleh Il Biscione kalau mereka tak melakukan high pressing.
Pun begitu dengan peluang yang didapat Matias Vecino (pada detik 0:10) usai dirinya merangsek ke kotak penalti guna menerima umpan Dalbert Henrique. Tanpa game plan yang sesuai, utamanya dalam mengobrak-abrik sisi kanan pertahanan Bologna serta memanfaatkan ruang yang terbuka di depan kiper Lukasz Skorupski, kesempatan itu mustahil tercipta.

Akan tetapi kita juga tak boleh menepikan fakta bahwa organisasi permainan I Rossoblu di fase bertahan (baik saat melakukan penjagaan kepada pemain Inter, memberi tekanan, dan menutup ruang) jauh dari kata sempurna. Inilah yang coba dieksploitasi Spalletti. Kenyataan ini pula yang membuat saya, di paragraf sebelumnya, menyebut kalau permainan Bologna tidak sepenuhnya bagus.

Namun sial, dan ini yang menjadi masalah utama sehingga Inter kini terseok-seok, eksekusi peluang dari para penggawa Il Biscione amat sangat buruk. Interisti tentu paham betul jika kejadian serupa juga muncul di laga melawan Sassuolo, Torino, dan Lazio.

Tak sanggup mencetak gol sama artinya dengan mendekatkan diri pada hasil-hasil jeblok. Saat ini, Inter berputar-putar di fase tersebut dan ‘menikmatinya’. Bila ingin perubahan, maka kesatuan visi di antara Spalletti dan anak asuhnya sangat diperlukan.

Mereka wajib menemukan solusi dari kemandulan akut tersebut seraya melatih, mempertajam, mengasah, memperbaiki kualitas atau apapun istilahnya dalam sesi latihan. Dengan begitu mereka dapat merumuskan berbagai game plan baru yang bisa diterapkan untuk menekuk lawan.

Namun perlu diingat, kasus ini hanya bisa dilaksanakan kalau para pemain Inter masih berkenan untuk mempertaruhkan segalanya di atas lapangan untuk sang pelatih.

Salah satu penyebab porak porandanya Leicester City di musim 2016/2017 atau Manchester United di awal musim 2018/2019 lahir karena perselisihan para pemain dengan pelatihnya. Gestur mereka di atas rumput hijau memperlihatkan keengganan untuk berjuang bersama Claudio Ranieri dan Jose Mourinho lagi. Mungkinkah penggawa Il Biscione sedang dihinggapi perasaan seperti itu?

Alih-alih menyalahkan Spalletti seorang, mengapa kita tak mencoba melihat dari sisi lain. Tipisnya skuat Inter musim ini, utamanya di sektor tengah, tentu disadari Interisti, bukan? Apalagi Roberto Gagliardini, Joao Mario dan Vecino terus memperlihatkan inkonsistensi penampilan. Di sisi lain, Radja Nainggolan masih berkutat dengan problem kebugaran serta kedisiplinan sehingga rajin absen.

Anehnya, dalam kondisi seperti itu, manajemen Inter tak memperlihatkan pergerakan nyata di bursa transfer musim dingin kemarin. Setidaknya, mencari amunisi baru sebagai tenaga tambahan guna mengarungi sisa kompetisi.

Kalau memang tak punya duit untuk membeli pemain baru, mengapa tak memaksimalkan opsi peminjaman? Peduli setan bahwa kualitas pemain pinjaman, kadang tak sesuai dengan kebutuhan.

Interisti boleh saja berpihak dan percaya kepada manajemen yang mengatakan bahwa Spalletti tak meminta pemain baru. Namun mari ubah sedikit sudut pandang kita terkait hal itu. Bagaimana kalau yang terjadi justru hal sebaliknya?

Misalnya saja Spalletti sudah meminta rekrutan baru tapi kubu manajemen yang tak menurutinya. Lebih ekstrem lagi, Spalletti memutuskan pasif walau mengerti jika timnya keteteran lantaran tahu bila manajemen Il Biscione takkan mengeluarkan sepeser pun uang buat belanja pemain di musim dingin. Kalau sudah begini, apa mutlak salah Spalletti?

Ibarat sebuah kapal, Inter baru saja dihantam gelombang besar dan angin kencang sehingga laju mereka di tengah samudra, oleng akibat kebocoran di sana-sini. Maka satu-satunya jalan yang bisa ditempuh Inter adalah menambalnya.

Dengan cara apa? Menyatukan lagi visi di antara pemain, pelatih, dan manajemen karena semuanya bertanggungjawab atas kebobrokan ini. Andai tak mampu melakukannya, melihat kapal oleng Inter perlahan-lahan tenggelam secara mengenaskan adalah keniscayaan yang tak dapat dipungkiri siapapun, lebih-lebih Interisti.

***

Oleh: Budi Windekind. Bisa disapa di @Windekind_Budi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *