Ronaldo, Dybala dan Turbulensi di Tubuh Juventus

Ronaldo, Dybala dan Turbulensi di Juventus

Ronaldo, Dybala dan Turbulensi di Tubuh Juventus

radentv.com – Turbulensi atau tumbukan udara dalam sebuah perjalanan pesawat terbang adalah keniscayaan. Semodern dan secanggih apapun pesawatnya, tetap saja belum ada teknologi yang mampu membuat sebuah pesawat terbang bebas dari guncangan turbulensi.

Besar kecilnya guncangan yang dihasilkan oleh turbulensi, biasanya ditentukan oleh faktor eksternal, misalnya cuaca, tekanan angin, dan lain sebagainya. Sisanya berasal dari desain aerodinamika pesawat serta kecakapan sang pilot saat menghadapi kondisi turbulensi.

Sudah menjadi tugas dari seorang pilot pesawat terbang untuk memastikan pesawat yang mereka terbangkan, bisa melewati turbulensi sekuat apapun dengan semulus mungkin.

Beberapa pekan terakhir mungkin jadi pekan yang penuh turbulensi bagi sebuah pesawat terbang bernama Juventus. Setelah tersingkir di ajang Coppa Italia lewat kekalahan memalukan 0-3 dari Atalanta, Giorgio Chiellini dan kolega kembali harus kehilangan poin ketika harus berbagi angka 3-3 oleh Parma di Serie A.

Sebelumnya hasil-hasil kurang bagus itu muncul, performa Juventus tak luput dari sorotan karena seringkali memainkan sepakbola yang tak berpola, membosankan, bahkan yang lebih konyol dari itu semua, I Bianconeri sering bermain dengan menyusahkan diri mereka sendiri.

Hal paling menakutkan dari peristiwa turbulensi adalah terjadi bukan diakibatkan cuaca buruk, melainkan saat langit justru sedang cerah-cerahnya. Mengapa? Karena hampir dipastikan, setiap pilot tidak memiliki cukup waktu untuk memprediksi, terlebih mengantisipasi kemunculannya.

Turbulensi saat cuaca cerah nyaris tidak terdeteksi oleh radar cuaca, sehingga para pilot biasanya tak punya kesempatan mengubah rute untuk menghindari guncangan yang mendadak ini. Saya rasa tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa Juventus tengah mengalami turbulensi jenis ini.

Tidak ada kondisi negatif yang luar biasa yang berputar di tubuh tim pada saat ini. Tidak ada friksi antara pemain dengan pelatih atau pelatih dengan manajemen. Pun tak ada masalah dengan kondisi finansial klub. Juventus memang tengah diberkati supaya tak mengalami badai yang sama seperti klub-klub Serie A lainnya rasakan.

Saat ini, Juventus sedang terbang pada ketinggian maksimum. Seperti lazimnya pesawat yang tengah berada di titik tertingginya dengan nyaman, sudah seyogyanya I Bianconeri bisa tancap gas sekencang mungkin agar tiba di tempat yang mereka tuju dengan tepat waktu atau bahkan lebih awal.

Kita tahu, Juventus punya segalanya untuk bisa terbang tinggi dan melesat cepat ke manapun yang mereka mau. Tidak ada yang meragukan kapasitas mesin yang menjadi motor perjalanan mereka.

Utamanya adalah figur yang kini berstatus sebagai ujung tombak klub. Lihat saja deretan nama-nama seperti Paulo Dybala, Douglas Costa, Frederico Bernardeschi, Mario Mandzukic atau yang paling spesial dari semuanya yakni Cristiano Ronaldo.

Juventus punya segalanya untuk menjangkau apapun yang mereka mau. Hanya saja tak seperti merakit sebuah pesawat terbang, sepak bola bukanlah tentang merangkai rumus-rumus fisika yang sudah pasti.

Memiliki ujung tombak sekelas Ronaldo dan kawan-kawan, rupanya cukup membuat pusing kepala sang peramu taktik, Massimiliano Allegri. Pasalnya ia tahu betul, serangan I Bianconeri belum tentu optimal jika seorang goal getter sejati macam Ronaldo disandingkan berdua dengan penyerang utama yang menjadi top skor klub musim lalu, Dybala.

Meski secara karakter permainan keduanya memiliki tipikal yang berbeda. Namun tidak bisa dipungkiri baik Ronaldo maupun Dybala adalah oportunis sejati di depan gawang. Akan sangat sulit jika kedua orang yang memiliki kecenderungan sama-sama mengincar gol, disatukan menjadi tandem. Itulah mengapa Allegri kerap melakukan eksperimen dengan membongkar pasang lini depan Juventus.

Misalnya saja memainkan Ronaldo berpasangan dengan deretan pemain depan Juventus lainnya secara bergantian. Terkadang Allegri menempatkan Ronaldo sejajar bersama Mandzukic, tetapi tak jarang ia memosisikan Ronaldo sendirian di depan serta ditopang oleh Dybala dan Mandzukic di belakangnya.

Eksperimen Allegri dalam meramu taktik yang bermuara pada Ronaldo tentu tak selalu berjalan baik. Dalam perjalanannya, Juventus sering mengalami turbulensi-turbulensi yang kerap datang secara mendadak.

Juventus bisa sangat perkasa ketika bisa menaklukkan Valencia di Liga Champions hanya dengan 10 pemain, tapi bisa melempem tiba-tiba seperti saat dipermalukan Manchester United di kandang sendiri.

Ini membuktikan bahwa memiliki pemain-pemain sekelas Ronaldo dan Dybala tak serta-merta membuat I Bianconeri bisa melesat cepat tanpa hambatan sama sekali.

Apa yang dilakukan Allegri sejauh ini memang masih menempatkan mereka pada jalur yang benar. Hanya saja perubahan strategi Juventus musim ini telah mengorbankan Dybala.

Dybala yang sebelumnya fasih dan terbiasa berada di lini terdepan Juventus, dengan berat hati saat ini harus membiasakan diri dan memulai peran barunya dari posisi sedikit di belakang Ronaldo.

Dybala memang bukan tengah disulap Allegri menjadi seorang gelandang murni, sebagaimana Allegri menyulap Mandzukic menjadi sayap di musim lalu. Dybala hanya mundur sedikit dari posisi sebelumnya sebagai penyerang guna berperan sebagai second striker.

Namun kondisi ini sering membuat Dybala kikuk dalam bermain. Ia sering bertabrakan posisi dengan Miralem Pjanic, Blaise Matuidi atau bahkan Emre Can. Jarang sekali kita melihat Dybala menusuk sampai ke kotak penalti seperti yang sering ia pertontonkan musim lalu. Pergerakannya di kotak penalti musim ini bahkan kalah oleh Sami Khedira yang notabene adalah seorang gelandang bertahan.

Terlepas dari posisi barunya saat ini dan belum memuaskannya performa Dybala, dirinya tetap berusaha tampil maksimal manakala diturunkan oleh Allegri. Bukti dari profesionalitas yang dijunjung tinggi.

Kita semua tahu bahwa yang ditampilkannya sekarang tidak sebaik penampilannya di musim lalu tatkala berdiri sejajar dan berduet dengan Gonzalo Higuain. Hal ini pula yang membuat Dybala seperti kesulitan mencetak banyak gol seperti di musim lalu.

Sejauh ini, Dybala baru mengoleksi sepasang gol saja di Serie A. Sangat jauh dari apa yang dicapainya di musim lalu. Dybala seolah terpaksa harus merelakan posisinya demi klub yang tengah mengalami euphoria oleh kedatangan sang idola baru. Sebab bagaimana pun, gerak-gerik Ronaldo, keberhasilannya, gol-golnya, akan selalu menjadi perbincangan hangat yang tak terputus di seluruh dunia.

Juventus menuai banyak keuntungan berkat itu. Namun sudah barang tentu, Dybala dibuat kecewa karenanya. Kendati demikian, selayaknya seorang ksatria yang terlanjur jatuh cinta pada si wanitanya, Dybala berupaya menerima apapun keputusan yang diambil klub yang dicintainya ini sembari menyembunyikan raut kecewa itu dibalik topeng ‘baik-baik’ saja yang selalu ia kenakan.

Namun sepandai-pandainya Dybala menutupi kekecewaannya itu, pada akhirnya ia tak kuasa juga meluapkan seluruh emosi yang mungkin tengah berkecamuk di hatinya. Ketika di pekan ke-22, saat Juve ditahan imbang 3-3 oleh Parma, Dybala tampak begitu kecewa dengan langsung meninggalkan bench pemain cadangan menuju ruang ganti saat Allegri benar-benar tak memilih memainkannya sebagai pemain pengganti yang terakhir, padahal saat itu pertandingan masih belum selesai.

Allegri dikabarkan sempat murka dengan perilaku Dybala, tapi ia masih tetap berbesar hati dengan melindungi salah satu punggawa terbaiknya itu dengan berbicara kepada wartawan bahwa Dybala mungkin sedang kedinginan. Allegri tentu tak mau, masalah sepele semacam ini akan memicu terjadinya turbulensi-turbulensi baru yang mengganggu perjalanan klub.

Selepas kejadian tadi, Dybala dikabarkan telah meminta maaf secara personal kepada Allegri maupun kepada rekan-rekan setimnya. Namun sayang, di pertandingan berikutnya melawan Sassuolo, Dybala kembali dicadangkan dan posisinya diisi oleh Bernardeschi.

Allegri bisa saja berdalih bahwa pemilihan Bernardeschi ketimbang Dybala merupakan kebutuhan taktikal belaka, tetapi banyak dari kita yang berspekulasi bahwa hal ini merupakan cara Allegri untuk menghukum Dybala atas kesalahan yang dilakukannya minggu lalu.

Keputusan Allegri memainkan Bernardeschi ketimbang Dybala memang terbukti tepat. Juventus akhirnya bisa kembali memetik kemenangan setelah melumat Sassoulo 3-0.

Namun ada hal menarik dalam pertandingan ini, ketika Juve masih unggul 1-0 sekitar menit ke-70. Miralem Pjanic melepaskan umpan lambung terukur ke kotak penalti I Neroverdi, lalu tanpa diduga Ronaldo yang lepas dari kawalan pemain belakang lawan melompat tinggi, menyambut umpan itu dengan sebuah sundulan yang keras buat mencetak gol kedua I Bianconeri.

Ronaldo pun berlari ke sudut lapangan untuk melakukan selebrasi khasnya, diikuti Pjanic yang begitu gembira sebab asisnya dimaksimalkan menjadi sebuah gol yang cantik.

Menariknya lagi, Ronaldo melakukan selebrasi yang tak biasa saat itu. Lelaki Portugal tersebut melompat dan berputar sembari mengarahkan tangan kanannya untuk menutupi separuh wajah layaknya tengah mengenakan topeng ksatria!

Ya, Ronaldo melakukan selebrasi ikonik khas Dybala Kali ini, mungkin kita boleh menyebutnya dengan Ronaldo Mask. Tetapi satu hal yang pasti, Ronaldo tampak sengaja melakukan selebrasi tadi sebagai bentuk dukungannya kepada Dybala yang tengah menghadapi situasi sulit beberapa pekan terakhir. Situasi yang barangkali jika terus didiamkan, akan memicu terjadinya turbulensi lain dengan skala yang lebih besar.

LINK STREAMING JUVENTUS vs FROSINONE ADA DISINI!

Ronaldo sangat memahami  situasi itu, sebagaimana ia pernah menyemangati Kaka hingga Benzema yang pernah mengalami masa-masa sulit di saat berkostum Real Madrid.

Pada akhirnya, masih di malam yang sama, Allegri pun memberi kesempatan bermain kepada Dybala sekalipun hanya menjelang menit-menit akhir. Benar saja, kehadiran Dybala di penghujung laga ini cukup berdampak positif bagi permainan Juventus.

Bahkan proses terciptanya gol terakhir I Bianconeri oleh Emre Can di malam itu, sedikit banyak merupakan andil dari Dybala. Kemudian sesaat setelah peluit panjang dibunyikan, seluruh pemain melakukan selebrasi kemenangan di depan tribun yang dipenuhi oleh Juventini. Sebuah bukti jika Chiellini dan kawan-kawan berhasil melewati turbulensinya dengan sangat mulus.

Selepas pertandingan Allegri menyempatkan diri untuk memuji performa anak asuhnya di hadapan para wartawan. Secara spesifik, ia pun turut mengomentari soal selebrasi Ronaldo yang menurutnya memberikan sinyal bahwa Juventus adalah keluarga seraya menepis anggapan bahwa relasi Ronaldo dan Dybala buruk.

Allegri juga menambahkan kalau dirinya tidak memiliki friksi dengan Dybala. Keputusan mencadangkan sosok asal Argentina tersebut adalah murni kebutuhan taktikal tim yang harus mengimbangi kekuatan lini tengah Sassuolo.

Juventus sangat beruntung memiliki Dybala, talenta muda yang barangkali bisa saja terus bertahan mengikuti ego. Seperti halnya banyak pemain bintang lain yang sering merasa besar kepala, jika ada satu atau dua keinginannya tak dipenuhi oleh pihak klub langsung bersuara tak betah dan merasa diperlakukan tidak adil.

Dybala tak seperti itu dan ia sangat berbesar hati menunjukkan kepada semua orang tentang bagaimana seharusnya laki-laki sejati bersikap yaitu berani mengakui kesalahan, berjiwa besar untuk meminta maaf, serta tak berkecil hati untuk bersabar dan menunggu kesempatan berikutnya datang.

Dybala memang belum sematang Ronaldo dan tak sediplomatis Allegri. Tetapi di lengan kirinya, ban kapten dari klub sebesar Juventus kelak melekat dan dibelanya habis-habisan. Dybala butuh waktu, sebagaimana remaja berusia 25 tumbuh dewasa seperti seharusnya.

Suatu saat nanti pula, bukan tak mungkin Dybala yang akan mengambil peran Ronaldo atau bahkan Allegri untuk menghindarkan Juventus dari ancaman turbulensi yang lebih hebat.

***

Oleh: Handi Aditya. Bisa ditemui di @handipsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *