Leonardo Bonucci: Si Kogoro Tidur yang Rindu Peluru Bius Shinichi

Leonardo Bonucci

Leonardo Bonucci

radentv.com – Bagi penikmat serial anime Detective Conan, pasti sudah tak asing lagi dengan tokoh Kogori Mouri, seorang detektif swasta paruh baya yang gemar minum arak dan suka menggoda gadis-gadis muda, tapi selalu berhasil memecahkan kasus-kasus misteri pembunuhan yang sulit, sehingga namanya terkenal seantero negeri, bahkan tak jarang, pihak kepolisian pun selalu melibatkan Kogoro di berbagai kasus yang rumit.

Pada kenyataannya Kogoro hanyalah seorang detektif yang kemampuannya semenjana, ngawur, dan tak jarang gegabah dalam melakukan analisis serta mengambil keputusan.

Segala macam cerita mengenai kehebatan Kogoro, sesungguhnya tak lepas dari peran Shinichi Kudo, seorang detektif SMA yang menjadi tokoh utama dalam serial ini.

Shinichi yang tubuhnya berubah menjadi seorang anak kecil usai diracuni para anggota mafia yang diburunya, kerap kali membantu Kogoro dalam memecahkan kasus-kasus yang tengah ditanganinya.

Dengan mengubah nama menjadi Conan Edogawa, Shinichi berpetualang memecahkan satu demi satu misteri yang datang pada Kogoro lewat analisis-analisisnya yang tajam.

Berbekal peluru bius dari jam tangan canggih miliknya, Shinichi dengan cerdik membidik leher Kogoro dan membuatnya supaya tidur sejenak, untuk kemudian dimanfaatkannya mengungkap hasil analisisnya ke hadapan pihak berwajib. Oleh sebab ini pula, Kogoro dikenal seantero Jepang sebagai Kogoro Tidur karena selalu mengungkapkan kasus-kasusnya dalam keadaan tidur.

Di lapangan sepakbola, keberuntungan Kogoro agaknya mirip dengan yang dialami oleh salah seorang bek Juventus, Leonardo Bonucci. Setelah musim lalu dicap sebagai pengkhianat oleh para Juventini karena memutuskan hijrah ke AC Milan, Bonucci kembali ke kota Turin di awal musim ini dengan mahar seharga talenta muda potensial asal Italia, Mattia Caldara. Baik Juventus maupun AC Milan, keduanya sepakat menukar guling kedua pemain ini dengan tanpa tambahan biaya sepeser pun.

Kembalinya Bonucci sempat menuai pertentangan dari berbagai elemen pendukung Juventus. Terlebih karena di pertemuan musim lalu, Bonucci yang berseragam Milan berhasil mencetak gol ke gawang Gianluigi Buffon dan melakukan selebrasi kumur-kumur ke arah pendukung Juventus. Tentu hal ini menjadi sesuatu yang amat sulit dimaafkan.

Di Milan sendiri, Bonucci tidak menjalani musim yang istimewa. Didapuk sebagai kapten tim, dirinya seolah gagal dalam mengeluarkan performa terbaik lantaran kerap melakukan berbagai kesalahan mendasar di hampir setiap pertandingan.

Tak terhitung berapa kali kritik yang telah dialamatkan kepada bek berusia 31 tahun ini. Ia seolah kesulitan beradaptasi dengan rekan-rekan barunya di Milan saat itu.

Padahal, siapa yang meragukan kapasitas seorang Bonucci di Juventus? Bahkan kolaborasinya dengan Andrea Barzagli dan Giorgio Chiellini sempat menjadi trio lini pertahanan yang sangat ditakuti para striker di kancah Serie A.

Ibarat Kogoro tanpa Shinichi, Bonucci seperti anak ayam kehilangan induk. Tak seperti di Juventus, manakala gerak-geriknya selalu dikomandoi dan didukung penuh oleh Buffon, Barzagli dan Chiellini, saat di Milan, Bonucci sendiri yang harus mengomandoi rekan-rekan setimnya yang mayoritas adalah pemain muda.

Tampak sekali Bonucci kesulitan berkomunikasi dengan rekan-rekan barunya itu. Bahkan yang lebih parah, Bonucci seperti tak mampu memimpin layaknya seorang kapten memimpin pasukannya. Bersama Milan, wajah Bonucci lebih sering dijadikan bahan meme ketimbang masuk headline di media-media sebagai pemain terbaik.

Namun kepulangan Bonucci ke Juventus sempat membuat “chaos” di berbagai forum Juventini di seluruh dunia. Mengingat performa buruknya di Milan sepanjang musim lalu plus selebrasi menyakitkannya di depan para Ultras, tentu bukan hal yang aneh bila Juventini meluapkan kemarahannya.

Bahkan sempat ada salah seorang fans Juventus yang berujar, lebih baik merekrut kembali Nicolas Anelka dan Nicklas Bendtner ketimbang membawa pulang Bonucci. Toh, sama-sama tak berguna, bukan?

Beban berat seolah bertumpu pada Bonucci di awal musim, dari mulai penolakan hingga cibiran, hampir setiap saat ia terima di laga-laga yang dilakoni Juventus, terlebih saat berlaga di kandang sendiri. Namun beruntung, suara-suara skeptis terhadap Bonucci perlahan mulai hilang, seiring dengan menggilanya penampilan Cristiano Ronaldo bersama Juventus.

Kedatangan Ronaldo memang membuat Juventus terlihat begitu superior di musim ini. Juve sudah memebejek gas sejak awal, poin demi poin mereka rengkuh tak bersisa di pekan-pekan perdana Serie A.

Sang allenatore, Massimilliano Allegri, bahkan kian pede meninggalkan pola 3 bek di musim lalu dan menggantinya dengan formasi 4-3-2-1 dengan menempatkan Bonucci dan Chiellini di posisi bek tengah, guna mengakomodir fullback Juve yang lincah, Joao Cancelo dan Alex Sandro.

Akan tetapi transformasi skema permainan yang dilakukan Allegri rupanya justru meninggalkan lubang besar pada sektor bek tengah yang dimilikinya. Bonucci yang sebelumnya sudah begitu fasih dengan formasi 3 bek bersama Andrea Barzagli & Giorgio Chiellini, kelihatan sangat canggung menjalankan peran barunya.

Berbeda dengan perannya yang dulu, dengan pendekatan formasi 4 bek ini, praktis ia hanya berpasangan dengan Chiellini ataupun Rugani sebagai pintu terakhir dalam membendung serangan lawan. Sementara Cancelo dan Sandro yang notabene lebih fasih dalam menyerang, terlihat sering terlambat turun saat Juventus dalam tekanan.

Bonucci kerap salah mengambil keputusan, baik dalam melakukan kaver maupun penjagaan ke pemain lawan. Ketiadaan sosok Buffon di bawah mistar gawang yang kerap kali lugas dan lantang memberi komando, disinyalir juga mempengaruhi performa Bonucci yang sering hilang fokus, melamun, hingga sebagian Juventini menjulukinya sebagai “Lord Bengong”.

Entah apa yang tengah menimpa Bonucci saat ini. Terkadang dirinya tampak begitu lugas di awal pertandingan tetapi mulai kehilangan konsentrasi saat laga mulai memasuki menit-menit yang krusial.

Bonucci seperti kehilangan perhatiannya. Ia sering terlambat mengambil keputusan, gagal berkomunikasi dengan rekan-rekannya atau bahkan yang lebih parah, tak bertindak sama sekali.

Apa yang dialami Bonucci memang menggelitik rasa penasaran kita, bagaimana seorang bek yang begitu diimpi-impikan oleh seorang Pep Guardiola bisa mengalami penurunan performa yang begitu drastis. Tercatat semenjak kepindahannya ke Milan musim lalu, Bonucci telah kehilangan sentuhan magisnya seperti yang sering kita saksikan bersama rekannya di trio BBC.

Tak hanya di atas lapangan, kebengongan Bonucci pun sempat menjalar ke luar lapangan. Beberapa pekan lalu, ketika Juventus bertandang ke kandang Cagliari, dua orang pemain Juventus yang berkulit hitam, Blaise Matuidi dan sang wonderkid, Moise Kean, mendapat perlakuan rasis dari tifosi Cagliari.

Lucunya lagi, alih-alih membela rekan setimnya, Bonucci justru menganggap insiden tadi sebagai peristiwa yang fifty-fifty atau bisa diartikan bahwa kedua belah pihak (baik suporter Cagliari maupun Kean) memiliki andil terhadap terjadinya insiden rasis ini. Tak pelak, komentar Bonucci ini menuai banyak sekali kecaman. Termasuk dari pendukung Juventus.

Menyaksikan Bonucci di sepanjang musim ini (utamanya di beberapa pekan terakhir), ibarat memaksa para Juventini melakukan senam jantung yang memacu deras adrenalin.

Saat menerima backpass dari lini tengah, tatkala menghadapi set piece lawan, atau ketika Juventus dihajar serangan balik, tak terhitung berapa banyak doa Juventini yang terpanjat agar Bonucci tak melamun seraya memikirkan bagaimana cara makan bubur ayam terbaik, diaduk atau tak diaduk?

Setuju atau tidak, Bonucci sesungguhnya masih diakui sebagai salah satu pemain belakang terbaik yang masih aktif bermain saat ini. Namun menilik performanya yang acap diiringi dengan kecerobohan, agaknya sudah waktunya bagi Juventus untuk memikirkan sosok pengganti figur berusia 31 tahun itu sesegera mungkin.

Bukan tugas yang mudah memang tetapi berharap pada “Lord Bengong” buat terus-terusan membentengi lini belakang klub sebesar Juventus, tidakkah itu juga sebuah kecerobohan yang lebih besar?

Seperti halnya Kogoro yang membutuhkan Shinichi dan peluru biusnya dalam menyelesaikan setiap kasus, barangkali Bonucci membutuhkan sesuatu yang bisa melecut kembali determinasinya. Sesuatu yang bisa mengembalikan lagi fokusnya di lapangan.

Apakah itu teriakan Allegri? Murka Andrea Agnelli dan Fabio Paratici? Cemoohan masif Juventini? Cuma Bonucci yang tahu.

***

Oleh: Handi Aditya (@handipsi )